BUKAMATA - Namanya Isma Puji Lestari. Usianya 36 tahun. Meski sudah berkepala tiga, namun semangatnya dalam berwirausaha masih bergelora. Itu tergambar dari usaha yang dia rintis, yakni Isma Food Makassar. Sebuah usaha yang bergerak dalam makanan dan minuman.
Meski begitu, Isma Food Makassar saat ini fokus pada penjualan Jahe Merah Instan. Sebab diketahui, saat pandemi menghantam Indonesia, banyak masyarakat mencari jahe untuk dikonsumsi. Tujuanya tidak lain untuk mejaga daya tahan tubuh.
Jauh sebelum usahanya terkenal seperti saat ini, Isma adalah seorang ibu rumah tangga yang lahir di Kota Semarang pada 11 April 1985 silam. Singkat cerita, dia bertemu dengan suaminya lalu menikah.
Setelah menikah, Isma tinggal dan hidup rukun bersama suaminya di Kota Makassar. Mereka kini dikaruniai empat orang anak. Anak yang tertua sudah duduk di bangku SMP, sedangkan anak yang bungsu masih duduk di bangku TK.
Dalam perjalanan hidupnya, Isma mulai memutar otak untuk membantu suaminya. Tepat pada awal tahun 2018, dia mencoba memberanikan diri untuk memulai usaha jual beli secara online.
Meskipun tidak ada basic usaha, namun Isma mencoba otodidak dan memberanikan diri untuk memulai berjualan. Perlahan-lahan, usahanya di dunia UMKM mulai terbuka. Akhirnya, dia memulai merintis usaha Isma Food Makassar. Kebetulan kata dia, saat itu pada tahun 2018 silam, masih sedikit orang yang menjual jahe merah.
"Awal berdiri tahun 2018, produk saya itu tiga yakni jahe merah instan, donat dan minuman kekinia. Tapi saya mau fokus satu, kalau sudah jadi, sudah berhasil begitu baru saya merambah ke yang lain," kata Isma.
Meski begitu, lanjut Isma, untuk donat dan minuman kekinian biasanya dipasarkan ketika ada event dan pesanan dari orang. "Kalau ada pameran begitu baru saya bikin (donat), tapi kalau jahe merah instan itu ready setiap hari, pokoknya tidak boleh kosong stok karena banyak orang yang butuh dan sudah memiliki langganan," beberya.
Isam kemudian menceritakan awal mula usaha Isma Food Makassar dikenal orang. Mulanya, dia hanya menjual produknya secara online, yakni melalui Whatsapp dan media sosial lainnya. Dari situ, beberapa orang mulai memesan mengunakan ojek online. Maklum, target market waktu itu masih di seputar Kota Makassar.
Tepat pada awal-awal tahun 2019, Isma Food Makassar makin terkenal setelah Covid-19 masuk ke Indonesia. Banyak masyarakat berbondong-bondong membeli produknya, terutama jahe merah instan. Itu karena khasiat yang terkandung di dalam jahe.
"Masa pandemi itu saya hanya bisa menjual secara online, jarang saya ketemu langsung. Tapi, ada juga yang datang langsung ke rumah untuk beli. Alhamdulillah banyak orderan langsung, omset saya bahkan meningkat disitu," bebernya.
Padahal sebelum pandemi, kata Isma, omsetnya tidak seberapa. Dalam sebulan, dia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp 1 juta lebih. Namun saat pandemi, omsetnya naik berkali lipat, yakni puluhan juta rupiah.
"Sebelum pandemi itu pembeli tidak menentu. Kadang dalam sehari ada, kadang juga tidak ada. Tapi pas pandemi, banyak orang beli. Dan mereka yang membeli itu promosikan ke teman-teman dan keluarganya, dari situ mulai semakin terkenal. Sebelunnya omset saya cuman Rp 1 juta, itu sudah alhamdulillah sekali, tapi pas pandemi itu, 10 sampai 20 juta itu per bulan. Bahkan ada salah satu bulan itu tembus 30-40 juta," ucapnya.
Untuk harganya sendiri, Isma mematok harga Rp 35 ribu untuk jahe merah instan ukuran 250 gram. Sedangkan ukuran 500 gram berada di kisaran harga Rp 65 ribu satu bungkus.
Tingginya minat masyarakat akan kebutuhan jahe merah membuat Isma berencana membuka sebuah cafe. Nantinya, di dalamnya berisi jajanan donat, minuman kekinian dan tentunya jahe merah instan. Saat ini, Isma mejadikan rumahnya di Jalan Borong Raya, Lorong 5 No. 101D, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai toko sementara.
"Saat ini cuma di rumah belum ada toko, tapi kita sudah titip (jahe merah instan) di beberapa toko retail di Kota Makassar. Saya punya cita-cita untuk buka cafe kecil-kecilan," katanya.
Meski begitu dalam perjalanan usahanya, Isma mengaku menemui pasang surut dalam menjalanka usahanya. Seperti saat ini, di akhir tahun 2021, terjadi penurunan pembeli jika dibandingkan awal tahun 2019 hingga awal tahun 2021. Meski begitu, dia tetap bersyukur dan tidak pantang menyerah.
"Memang kalau dilihat ada penurunan pembeli, mungkin karena banyak juga yang mulai jualanan jahe, tapi harus tetap disyukuri. Apalagi kalau lihat anak-anak di rumah, saya bersemangat lagi. Kuncinya jangan menyerah," tegas Isma.
Terlepas dari itu, Isma mengaku sangat bersyukur bisa terjun dalam dunia usaha. Lewat jahe merah instan itu, Isma yang dulunya hanya ibu rumah tangga, namun kini dikenal sejumlah pejabat di Sulawesi Selatan. Terutama, ibu-ibu Dekranasda Sulsel hingga kepala-kepala dinas. Bahkan, Isma mengaku beberapa kali mengikuti pameran di luar kota, seperti Jogyakarta dan aktif mengikuti pameran dan webinar yang diadakan dinas Pemberdayaan Perempuan maupun instansi terkait.
"Alhamdulillah gembira sekali, yang dulunya saya tidak kenal siapa-siapa, setelah masuk UMKM, banyak sekali kenal teman-teman UMKM, ibu dan bapak kepala-kepala dinas. Bersyukur sekali, kan dulu 2018 saya tidak siapapun, pas 2019 karena dibantu Dekranasda, sekarang orang tidak lagi kenal nama saya, tapi usaha saya," katanya.
Untuk itu, Isma mengajak para pelaku UMKM atau yang baru akan merintis usahanya untuk yakin dengan produk sendiri. Dan tidak kalah pentingnya adalah merawat silaturahmi dengan siapapun.
"Pasti laku (produknya), tidak boleh minder, tidak boleh tidak percaya diri, harus yakin. Sesama teman UMKM juga tidak boleh saling sikut, kita harus saling supoort dan jangn putus tali silaturahmi, kita tidak tahu rejeki dari mana, semakin banyak teman, makin banyak rejeki," pungkasnya.