Redaksi : Minggu, 31 Oktober 2021 11:45
Suasana Kemah Calon Pemimpin yang digelar Abdi Peneleh di Jungle Camp Bili-bili, Gowa.

GOWA, BUKAMATA - Tenda dom berderet di sisi kiri Jungle Camp Bili-Bili, Gowa. Berwarna-warni. Ada oranye, merah, biru langit, juga biru donker. Di sebelahnya belasan peserta duduk beralas tikar, berbanjar.

Mereka masih muda, milenial. Ada SMP, SMA, juga mahasiswa semester awal. Perhatian mereka serius tertuju ke arah pria bertopi biru kombinasi merah. Anshar Aminullah namanya. Sosiolog UIT yang juga kandidat doktor di Universitas Indonesia ini duduk di atas bangku. Didampingi Zakiah yang memandu diskusi. Aktivis berbagai organisasi kepemudaan ini, memberikan materi pada peserta Kemah Calon Pemimpin yang digelar Abdi Peneleh, Sabtu, 30 Oktober 2021.

Dipandu Zakiah, Anshar menekankan, membangun generasi yang kuat bukanlah hal yang mudah.

"Di tengah gempuran budaya-budaya asing dalam genggaman gawai generasi kita, maka mereka tanpa sadar berada di sebuah persimpangan. Memilih konsisten dengan tradisi warisan nenek moyang kita dengan mengolaborasikan budaya positif dari luar, ataukah menelan mentah-mentah budaya asing tersebut dan menjadikannya sebagai kiblat baru dalam pergaulan," terangnya.

Budaya Siri' dan Pacce kata Anshar, harus menjadi nilai kearifan lokal yang mesti selalu dipegang dalam pergaulan kita.

Wasekjen DPP KNPI ini menegaskan, kita harus bersyukur dan berterima kasih terhadap pendahulu kita yang telah mewariskan nilai luar biasa ini, terutama kita yang berasal dari desa, di mana masyarakat kita yang diikat oleh sebuah solidaritas organik, di mana ikatan emosional kita masih didasarkan pada sebuah kesadaran kolektif, bahwa peraturan berbasis moral harus tetap dipertahankan semaju apapun sebuah peradaban.

"Aktivis peneleh ini menurut hemat saya harus tetap memasukkan gerakan moral yang dipertautkan dengan budaya khas kita sebagai orang Indonesia. Jika hal tersebut dapat konsisten dijalankan, maka saya yakin dan percaya para peserta di pelatihan ini adalah orang-orang yang akan membawa bangsa ini akan menjadi besar, sehingga pesimisme kita akan masa depan negeri akan memudar seiring tumbuhnya para peserta ini menjadi leader maupun konseptor mumpuni untuk kebaikan negeri," terangnya.

Tim Penggerak Kemah Calon Pemimpin Abdi Peneleh, Wa Ode Endia Verni mengatakan, kegiatan ini berlangsung 3 hari, diikuti pemuda atau siswa dan siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kota Makassar.

Dalam kegiatan tersebut, peserta dididik mengenali potensi diri, hidup berkelompok, kepemimpinan, kebangsaan, religiusitas, kepenelehan dan menyadari salah budaya kita “A’bulo Sibatang” bagi masyarakat Sulawesi Selatan.