JAKARTA, BUKAMATA -- Kamis, 14 Oktober 2021. Di Jakarta. Di atas gemerlap panggung berlatar alam hijau, bertuliskan "Penganugerahan Penghargaan Kalpataru 2021", Ali Topan tampak gagah dengan setelan batik hitam, juga celana berwarna gelap. Dipadu masker hitam yang menyamarkan senyum bahagianya saat namanya disebut untuk naik ke atas panggung.
Dia menggunakan alat bantu. Sebuah besi pegangan berkaki empat. Seorang wanita turut mendampinginya. Juga mengenakan setelan berwarna gelap.
Pemuda asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan itu, mendapat Penghargaan Khusus Kalpataru 2021 sebagai Pemuda Inspiratif Advokasi Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Baca Juga :
Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka baik individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, serta mengelola lingkungan hidup dan kehutanan.
Piagam diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya. Bu Menteri mengenakan batik biru. Piagam sempat disentuh Ali, sebelum kemudian dipegang wanita yang mendampinginya.
"Alhamdulillah saya dapat penghargaan khusus untuk advokasi lingkungan," kata Ali Topan usai menerima penghargaan, Kamis, 14 Oktober 2021.
Penghargaan ini merupakan kali pertama diraih oleh pengiat lingkungan asal Pinrang itu. Gerakan yang dilakukan Ali Topan, adalah menghadirkan bank sampah sebagai jawaban atas permasalahan kompleks seputar sampah. Sehingga sampah dapat dijadikan sumber penghasilan dan tidak dipandang sebagai permasalahan.
"Saya ajak teman-teman ketika ada kegiatan lingkungan yang tidak jalan, saya advokasi teman-teman untuk menjalankan. Saya membentuk bank sampah, jadi tugas saya mengajak teman-teman sambil jalan bersama," sebut Sekretaris Taruna Siaga Bencana Kabupaten Pinrang ini.
Ia mengatakan, keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk beraktivitas sebagai pegiat lingkungan. Kedua kaki Ali Topan lumpuh. Sebuah peristiwa kecelakaan kerja yang terjadi tahun 2015 lalu, sempat mempengaruhinya. Ia terjepit besi di ketinggian 15 meter. Akibatnya kedua kaki lumpuh total.
"Kemarin menjadi momok, tetapi saya kemudian tidak ingin kekurangan ini menjadi penghalang. Kekurangan itu cuma fisiknya, tetapi gerakan (advokasi) tidak," ucapnya.
Di lingkunganya, rekrutan Tagana tahun 2009 ini ingin menjadi contoh perjuangan bagi lingkungan. Adapun penghargaannya ini ia sebut tidak lepas dari peranan orang-orang di sekitarnya. "Saya berterima kasih juga ke teman-teman, saya tidak seperti ini kalau bukan teman-teman yang bantu saya berjuang untuk lingkungan," sebutnya.
Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Pemprov Sulsel, Herman, mengaku bangga dan bersyukur atas raihan anggota Tagana Kabupaten Pinrang ini. Terlebih sebagai penyandang disabilitas tidak mengurangi semangat Ali Topan untuk berjuang demi lingkungan.
"Beliau memang disabilitas, lumpuh kaki, tetapi tidak lumpuh pikiran dan semangatnya luar biasa dan itu bisa menginspirasi pemuda lain, Sehingga, mereka tidak berhenti berkarya dan beliau itu aktif di ketaganaan sebagai relawan membantu teman-temannya baik di daerah bencana maupun kegiatan lainnya," ujarnya.
"Ali Topan bisa berbuat untuk dirinya dan menjadi kebanggaan bagi dirinya dan kebanggan daerahnya Sulsel, khususnya bagi Kabupaten Pinrang," tambahnya.
Raihan Ali Topan juga menjadi kado spesial bagi HUT ke 352 tahun Sulsel, seorang warga mampu yang dikarunia semangat jiwa tinggi untuk mengabdi menjadi inspirasi bagi masyarakat.
Selain Ali Topan, seorang warga Sulsel juga menjadi salah satu penerima dari 10 penerima penghargaan Kalpataru Darmawan Denassa asal Kabupaten Gowa. Ia merintis berdirinya Rumah Hijau Denassa (RHD) sebagai sebuah wadah pembelajaran yang memadukan kearifan lokal dan budaya Sulawesi Selatan dengan pelestarian dan penyelamatan keanekaragaman hayati. Upaya ini telah berhasil menjadi model penyelamatan keanekaragaman hayati dan pengembangan ekowisata dan edukasi yang mendukung dan bersinergi dengan program-program pemerintah.(*)