Wiwi : Sabtu, 28 Agustus 2021 16:08

BUKAMATA – Di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19, sejumlah perbankan berlomba-lomba beralih ke pelayanan digital, tanpa terkecuali Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Saat ini, BPR telah berkolaborasi untuk menghadapi tantangan di sektor keuangan akibat pandemi Covid-19 dan disrupsi digital. Melalui kolaborasi, BPR dapat memperkuat ketahanan dalam menjalankan fungsi intermediasi.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Joko Suyanto menyampaikan, transformasi digital yang dilakukan BPR masih jauh tertinggal dibandingkan dengan lembaga keuangan lain.

Olehnya, BPR memilih jalan kolaborasi agar mampu menghadapi tantangan disrupsi akibat digitalisasi yang gencar dan perekonomian yang melambat.

”Dalam melakukan digitalisasi, BPR menghadapi tantangan permodalan, sumber daya manusia, dan infrastruktur. Dengan keberadaan mitra, beban BPR yang berat akan ditanggung secara bergotong-royong,” Ungkapnya dikutip Bukamata dari laman BPR, dalam kegiatan BPR Ujung Tombak Pembiayaan UMKM di Tengah Pandemi, Sabtu (28/8/2021).

Dengan adanya mitra, beban BPR yang berat akan ditanggung secara bergotong royong.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengatakan, Perbarindo sedang menyiapkan peta jalan untuk kolaborasi BPR, bank umum, dan penyelenggara teknologi finansial sebagai sebuah ekosistem.

Pasalnya, tantangan yang dihadapi BPR saat ini bukan sekadar digitalisasi, namun juga upaya menghimpun likuiditas.

Peraturan OJK No 5/POJK.03/2015 tentang kewajiban modal minimum BPR menyebutkan, pada 2019, bank harus memenuhi ketentuan modal minimal Rp 3 miliar. Adapun pada 2024, modal minimal BPR sebesar Rp 6 miliar. BPR yang merasa keberatan dengan peraturan itu didorong untuk mencari mitra strategis.

”Khusus di BPR, likuiditas menjadi pertimbangan signifikan karena BPR harus memitigasi kewajiban-kewajiban jatuh tempo yang saat ini sulit diprediksi. Nasabah yang biasanya mengambil tabungan hanya untuk kebutuhan di hari raya, sekarang tiap bulan mengambil,” ujarnya.

Melalui model bisnis yang nantinya dapat saling melengkapi, kolaborasi dapat mendorong entitas BPR, bank umum, dan tekfin untuk tumbuh bersama. Hal ini akan berdampak pada kemudahan masyarakat, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan pelayanan yang lebih cepat dan aman.