Aswad Syam
Aswad Syam

Jumat, 20 Agustus 2021 13:45

Gubernur Sulsel Nonaktif, Nurdin Abdullah saat hadir secara daring dalam sidang dugaan suap proyek infrastruktur Sulsel.
Gubernur Sulsel Nonaktif, Nurdin Abdullah saat hadir secara daring dalam sidang dugaan suap proyek infrastruktur Sulsel.

Hakim Tanya Perasaan Soal Arahan Nurdin Menangkan Kontraktor, Saksi: "Hancur Plus Pusing Yang Mulia"

Saksi mengaku sangat hancur dan pusing saat diminta mengikuti arahan Gubernur untuk memenangkan rekanan tertentu.

MAKASSAR, BUKAMATA - Kamis, 19 Agustus 2021. Di ruang sidang utama Haripin Tumpa PN Makassar, berlangsung sidang tindak pidanna korupsi dengan terdakwa Gubernur Sulsel Nonaktif, Nurdin Abdullah. Nurdin hadir secara daring lewat video conference.

Di depan majelis hakim sidang kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Sulsel, sudah duduk delapan saksi. Empat dari Pokja 2. Empat juga dari Pokja 7. Mereka adalah, Ansar, Herman, Yusril Malombassang dan Nizar dari Pokja 7. Sedang dari Pokja 2, ada Abdul Muin, Andi Salmiati, Munandar Naim dan Syamsuriadi.

Ketua Majelis Hakim, Ibrahim Palino meminta mereka berdiri. Lalu rohaniawan mengangkat kitab suci ke atas kepala mereka. Para saksi pun mengikuti ucapan majelis hakim mengucap sumpah di atas kitab suci, berjanji akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Setelah itu, mereka duduk kembali.

"Saudara saksi, bagaimana cara kerjanya Pokja, ini kan berlima (total anggotanya). Apakah ada pembagian tugas?" tanya Ibrahim kepada anggota Pokja yang bersaksi di persidangan.

Salah satu anggota Pokja 7, Ansar menjawab. Dia mengaku timnya bekerja secara kelompok dalam memutuskan pemenang lelang.

"Kalau kami, Yang Mulia, Pokja 7. Evaluasi masing-masing, nanti kami rapatkan, kami satukan, diskusikan. Hasil diskusi itulah yang kami tetapkan sebagai pemenang," beber Ansar.

"Nah, sedikit ya, ketika Saudara mendengar ada permintaan, kalau Pak Jaksa kan bilang perintah, tapi kalau saya tidak. Mungkin hanya penyampaian (Sari) Pudjiastuti (Eks Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa, red) bahwa ini ada atensi dari Bapak. Semua saksi yang delapan menafsirkan bahwa yang dimaksud Bapak itu Pak Gubernur, Pak Nurdin Abdullah ya, Gubernur," kata Ibrahim.

"Ketika itu, dalam hati dan pikiran Saudara ada atensi Gubernur, apa yang Saudara rasakan? Apakah biasa-biasa saja ataukah ada semacam, Saudara sendiri yang mengatakan ada permintaan Gubernur. Saya hanya mau tahu suasana kebatinan Saudara waktu itu ketika mendengar bahwa ini adalah atensi Gubernur," lanjut Ibrahim.

Saksi Ansar lalu merespons pertanyaan Ketua Majelis Hakim tersebut. "Hancur, kemudian plus pusing, pusing, Yang Mulia. Bagaimana caranya mau diakomodasi seperti itu, sementara aturan yang kami dapat dulu, semua aturan itu malah semua semakin dipersempit. Artinya, semua malah dipermudah," ungkap Ansar.

"Maksudnya kenapa Saudara pusing? Kan hanya atensi, hanya permintaan saja?" tanya Ibrahim bernada heran.

"Khawatir, Yang Mulia, kalau nggak dipenuhi, nanti ada sanksi," jawab saksi Ansar.

Anggota Pokja 7 lainnya, Yusril Malombassang, mendapat giliran menjawab. Senada dengan Ansar, dia juga mengaku merasa tertekan dalam bekerja akibat adanya arahan tersebut.

"Pasti tertekan, Yang Mulia. Mereka mau mudah-mudahan yang jadi atensi bisa menang, Yang Mulia," ungkap Yusril.

Tekanan yang sama dirasakan anggota Pokja 2, Andi Salmiati yang juga turut dihadirkan JPU KPK sebagai saksi.

"Ada tekanan. Merasa tertekan," papar Andi Salmiati.

"Mengapa saudari saksi tertekan?" tanya Ibrahim Palino.

"Iya karena harus dimenangkan. Harus dimenangkan," jawab Salmiati.

Salmiati bilang, sedikitnya ada 3 paket yang diminta oleh Sari Pudjiastuti untuk dimenangkan pada 2020 yang telah dilelang Pokja 2. Hakim Ibrahim lantas mencecar apakah ketiga paket itu dimenangkan sebagaimana arahan Sari Pudjiastuti. "Yang diminta itu gol semua?" ujar Ibrahim.

"Iya, alhamdulillah gol semua," ujar Salmiati mengiyakan.

#Nurdin Abdullah