Kepala Balai Anak Toddopuli Makassar: Ini Seperti Pondok Pesantren, Begitu Keluar Langsung Menjadi Baik
Kepada anak-anak binaan di Balai Anak Toddopuli kata Christiana Junus mengatakan, sebenarnya balai ini bukan untuk rehabilitasi, melainkan semacam pondok, ketika keluar, mereka menjadi orang baik.
MAKASSAR, BUKAMATA - Kopi Tumpah Bukamatanews.id kali ini, menghadirkan Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Toddopuli Makassar, Christiana Junus. Tim Kopi Tumpah mendatangi langsung kantornya di Salodong, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
Sambil berkeliling mengunjungi berbagai fasilitas balai, kepada Nana Djamal dari Kopi Tumpah Bukamatanews, Christiana Junus membeberkan seperti apa sebenarnya peran dari Balai Anak Toddopuli Makassar yang dibawahi langsung Kementerian Sosial RI itu.
Menurut Christiana Junus, di balai yang dibinanya, itu ada beberapa hal yang dikembangkan. Ada usaha dan asesmen aplikasi sosial. Di dalam balai itu, juga ada aula. Ada kamar tamu. Ada juga ruang vokasional untuk anak-anak belajar komputer, salon, otomotif. Ada juga sarana prasana pembinaan mental.
Sarana lainnya adalah olah raga. Untuk pembinaan fisik anak. Di indoor ada futsal, tenis meja. "Kita juga akan siapkan meja biliar," ungkapnya.
Di outdoor, ada sepak takraw, sepeda, juga pemancingan.
Christiana memaparkan, sebagai balai rehabilitasi, fungsi balai ini melakukan rehabilitasi sosial. Visinya, menjadi mitra terbaik dalam rehabilitasi sosial anak membutuhkan perlindungan khusus.
Misinya, menjadi pusat unggulan rehabilitasi sosial lanjut, pusat unggulan sumber-sumber sosial, pusat unggulan pelayanan sosial. "Dari visi misi ini, kita menyatukan motto kita. Bahwa sejak anak datang anak merasa diperhatikan dan diperlakukan dengan baik," terangnya.
Christiana juga menyampaikan ke para anak-anak binaan, bahwa ini sebenarnya bukan rehabilitasi. Tapi semacam pondok pesantren. Kalau keluar bisa langsung berubah menjadi baik.
"Intervensi pertama, mereka punya pemahaman bahwa mereka harus berubah," tegas Christiana.
Juga ada pembinaan mental spiritual. Kalau muslim, menunaikan ibadah lima waktunya. Begitu juga nonmuslim, mereka melaksanakan ibadah dengan bermitra dengan bagian mental spiritual. Pendeta untuk nasrani dan ustaz untuk yang muslim.
Mengenai mekanisme penerimaan anak-anak binaan, ada tiga yang diterima. Pertama, rujukan, kemudian titipan dan putusan.
"Untuk rujukan, kita menerima rujukan dari dinas atau lembaga yang merujuk anak-anak yang melakukan asistensi rehabilitasi sosial di sini. Kemudian titipan sementara berproses hukum. Kalau rujukan anak yang memerlukan perlindungan khusus. Anak yang berkebutuhan khusus, pengguna zat adiktif. Ada juga korban bullying. Mungkin karena kondisi sosial orang tuanya. Misalnya orang tuanya pemulung terus anaknya diejek-ejek," paparnya.
"Sedangkan titipan, itu putusan sudah ada kekuatan hukuman tetap," tambahnya.
Mekanismenya lanjut dia, mereka membuka registrasi online. Untuk setiap kelompok anak itu diberikan pembinaan. "Itu sudah diketahui mitra kita semua. Mendaftar dulu. Terus teman-teman mempelajari dokumennya," bebernya.
Di balai juga ada kafe. Tidak hanya jadi tempat nongkrong. Tapi tempat mereka belajar bekerja. Di situ, mereka melayani para pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati minuman dan camilan.
News Feed
Gubernur Sulsel Resmikan Jembatan Sungai Balampangi Penghubung Sinjai - Bulukumba
31 Januari 2026 21:37
