Muh. Taufik
Muh. Taufik

Jumat, 23 Juli 2021 18:03

Menjadi Warga Digital yang Cakap dan Bertanggung Jawab

Menjadi Warga Digital yang Cakap dan Bertanggung Jawab

Saat ini hoaks muncul hampir setiap hari di media sosial. Hoaks bertujuan menciptakan permusuhan, mencari untung, membuat Indonesia tidak stabil.

BUKAMATA - Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 23 Juli 2021 di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Bersama Melawan Kabar Bohong”.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Kepala Laboratorium Teknologi Pendidikan UNM dan anggota Japelidi Citra Rosalyn Anwar, kreator konten Sulawesi Azmir Arif Araflan, jurnalis kebudayaan dan sejarah Harian Mercusuar Jefrianto, dan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Utara Agustinus Hari. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Septi Wulandari selaku jurnalis. Kegiatan webinar kali ini dihadiri sebanyak 1.157 peserta dari berbagai kalangan usia dan profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Citra Rosalyn Anwar yang membawakan tema “Cakap Mengelola Informasi Digital, Identitas Digital, dan Jejak Digital dalam Media Sosial”. “Jejak digital itu harus glowing, bukan kulit saja yang butuh skincare. Wajah digital juga butuh usaha dan perawatan,” katanya. Ia juga memberikan kecakapan dasar yang harus dimiliki dalam bermedia sosial: mengakses, menyeleksi, memahami, memverifikasi, memproduksi, mendistribusikan, berpartisipasi, serta berkolaborasi. Penting juga untuk menjaga privacy diri dan orang lain, misalnya tidak asal mengirim kegiatan bersama teman ke InstaStory, tanpa seizin teman.

Berikutnya, Azmir Arif Araflan menyampaikan materi berjudul “Apakah Anda Tahu Dampak Penyebaran Hoax?”. Saat ini hoaks muncul hampir setiap hari di media sosial. Hoaks bertujuan menciptakan permusuhan, mencari untung, membuat Indonesia tidak stabil. “Pelaku penyebar berita hoaks bisa terancam Pasal 28 Ayat (1) UU ITE,” katanya. Azmir juga membagikan cara mengatasi berita hoaks: cek narasumber, jangan terjebak judul provokatif, waspadai gambar yang dikirimkan, jangan buru-buru membagikan konten, dan baca keseluruhan informasi.

Sebagai pemateri ketiga, Jefrianto membawakan tema “Bijak Menyuarakan Pendapat di Dunia Digital”. Jerianto menyebut budaya dunia digital saat ini di antaranya ‘bagikan dulu, baru teliti’; kecenderungan menyenangi konten berbau seksual, kekerasan, politik, dan magis; dan tingkat keterpaparan hoaks tinggi. Dia pun membagikan tips menyampaikan pendapat di dunia digital, yaitu hindari opini provokatif, mengetahui isu secara detail, memikirkan kembali dampak yang akan muncul sebelum mengirimkan pendapat, disampaikan dengan sopan santun.

Adapun sebagai pemateri terakhir, Agustinus Hari menyampaikan tema “Cyber Safety: Tips dan Pentingnya Internet Sehat”. Di era digital, perlu pembekalan diri dengan peralatan digital. Tapi, ini saja tidak cukup. Harus dilengkapi keamanan untuk melindunginya. Agustinus membagikan tips internet sehat, seperti jangan membuka situs provokatif (bisa cek di whois.com) dan tidak meneruskan kiriman yang tidak jelas sumbernya.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Salah seorang peserta webinar Yani bertanya kepada Citra Rosalyn Anwar. “Apa saja faktor pemicu seseorang menyebarkan hoaks? Apakah latar belakang pendidikan tinggi bisa dipercaya, pernyataan yang diberikan selalu benar?” tanyanya.

“Ada tiga hal yang harus kita lewati sebelum share, cek kebenaran, apakah itu penting, apakah bermanfaat. Kalau tidak ketemu, ya sebaiknya tidak dibagikan. Berhenti saja di kita. Pertanyaan kedua apakah orang dengan latar belakang pendidikan tinggi selalu bisa dipercaya statement-nya, jawabannya nggak. Cek lagi apakah betul statement itu dari dia. Literasi digital bukan hanya ditargetkan untuk yang tidak sekolah tinggi, karena menjadi warga digital adalah hak dan kewajiban kita semua,” jawab Citra.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

#Dyandra Promosindo #Kominfo RI

Berita Populer