Dewi Yuliani : Senin, 19 Juli 2021 18:02
Suntono

MAKASSAR, BUKAMATA - Kabupaten Jeneponto tercatat memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak di Sulsel. Angkanya mencapai 14,58 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Sulsel, Suntono, mengungkapkan, di Bulan Maret 2021, jumlah dan persentase penduduk miskin di Sulsel mengalami penurunan. Dari September 2020 hingga Maret 2021, tercatat sebanyak lebih dari 15 ribu orang keluar dari kemiskinan dengan persentase kemiskinan mencapai 8,78 persen pada Maret 2021, dari 8,99 persen pada September 2020.

"Berdasarkan jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota pada September 2020, Kabupaten Jeneponto menempati angka kemiskinan tertinggi di Sulsel, yakni 14,58 persen. Dan Makassar terendah dengan persentase tercatat 4,54 persen," ungkap Suntono, dalam kegiatan Coffee Morning yang digelar secara virtual di Makassar, Senin, 19 Juli 2021.

Untuk tingkat pengangguran terbuka, Suntono menyampaikan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel menurun menjadi 5,79 persen pada Februari 2021, dibandingkan dengan data TPT pada Agustus 2020 yang sebesar 6,31 persen. Pada Agustus 2020, Kota Makassar mencatat TPT tertinggi yakni 15,92 persen, dan Kabupaten Selayar mencatat yang terkecil yakni 2,31 persen.

"Di masa pandemi Covid-19, banyak perubahan terkait ketenagakerjaan. Salah satunya, terjadinya tambahan pengangguran. Beberapa karyawan di rumahkan, bahkan di PHK. Tidak jarang pula mereka para pekerja yang mengalami pengurangan jam kerja. Namun demikian, keadaan Februari 2021 angkanya sudah lebih baik dibandingkan Agustus 2020," jelasnya.

Terkait kondisi ekonomi Sulsel, menurut Suntono, di triwulan pertama tahun 2021 masih mengalami kontraksi pada angka 0,21 persen. Sementara di tahun 2020, kontraksi perekonomian Sulsel berada di angka 0,70 persen.

Pada triwulan pertama tahun ini, sektor pertanian tumbuh 7,14 persen. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,73 persen. Sektor jasa kesehatan tumbuh 2,32 persen.

"Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan share-nya mencapai 23,42 persen, sektor konstruksi sumbangannya 13,71 persen, sektor perdagangan besar dan eceran kontribusinya mencapai 13,11 persen, dan sektor industri peranannya tercatat 12,63 persen," paparnya.

Berdasarkan data BPS, ada sembilan lapangan usaha mengalami kontraksi. Kontraksi terdalam pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 18,04 persen, sektor pertambangan dan penggalian 9,57 persen, dan sektor akomodasi dan makan minum kontraksinya mencapai 7,21 persen.

"Untuk pertumbuhan ekonomi, pengeluaran konsumsi rumah tangga memiliki share terbesar yakni 56,39 persen di triwulan pertama, dan mengalami kontraksi sebesar minus 3,61 persen. Ekspor mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 8,19 persen, sedangkan impor mengalami kontraksi paling dalam sebesar minus 15,92 persen," urainya. (*)