Redaksi
Redaksi

Rabu, 14 Juli 2021 11:09

Suasana di dalam Pondok Pesantren Darul Isitiqamah, Maros.
Suasana di dalam Pondok Pesantren Darul Isitiqamah, Maros.

City of Darul Istiqamah, Konsep Terintegrasi untuk Majukan Pesantren

Sebuah lingkungan pendidikan, harus bersuasana nyaman. Agar transfer ilmu berjalan lebih baik. Itu konsep yang diusung Darul Istiqamah Maros. Sehingga selain sistem pendidikan yang nyaman, suasana juga dibuat asyik.

MAROS, BUKAMATA - Ada City of Darul Istiqamah di Maros. Namun ini bukan kota baru, walau suasana layaknya kota memang ada di dalamnya. "Kota yang modern, rapi, asri, dan nyaman," ucap Muzayyin Arif, Pembina Yayasan Darul Istiqamah, Rabu, 14 Juli 2021. Yayasan tersebut berdiri pada 1969 dan mendirikan Pesantren Darul Istiqamah setahun kemudian.

Muzayyin membeberkan, City of Darul Istiqamah adalah sebuah gagasan tentang perubahan pesantren menjadi lebih baik. Digagas sekitar 2011.

"Kota" ini adalah kawasan terintegrasi. Di dalamnya ada beberapa institusi pendidikan yang bertransformasi. Dari tradisional ke modern, dengan pertimbangan akan lebih bisa menarik minat masyarakat mengirim anak-anaknya untuk belajar pendidikan islami.

Wakil Ketua DPRD Sulsel itu mencontohkan Spidi atau Sekolah Putri Darul Istiqamah. Konsepnya boarding school, mirip dengan Sekolah Insan Cendekia, sekolah modern di Serpong yang didirikan tokoh nasional Tamsil Linrung. Muzayyin pernah jadi direktur di situ.

Konsepnya adalah para pendidik, kurikulum, hingga fasilitas semua yang terbaik. “Ada yang bila mengapa bangun sekolah mahal. Ini soal segmentasi. Positioning. Spidi kita arahkan lembaga pendidikan kelas menengah atas agar ada juga mendidik kalangan itu secara islami,” ucapnya.

Muzayyin menilai, harga tidak seharusnya dibicarakan di awal. Spidi mensosialisasikan kualitas. Kurikulum, manajemen tata kelola tidak tradisional. Tidak konvensional. Tidak kekeluargaan. Guru, kepala sekolah, dipastikan kompeten.

“Setelah itu baru bicara harga. Toh itu berdasar hitungan dari segala fasilitas terbaik yang kita berikan. Ini bagian dari strategi untuk menyentuh segmen yang kita tuju. Di kalangan masyarakat tertentu, harga sesuai dengan kualitas,” papar Muzayyin

Di luar Spidi dan beberapa sekolah modern yang dibangun Darul Istiqamah, lembaga pendidikan reguler tetap ada di kawasan pesantren. Banyak pilihan di sana.

Cara lain untuk menopang transformasi pesantren adalah pengembangan ekonomi, misalnya pembangunan kawasan perumahan komersial. Itu, imbuh pria 39 tahun itu, tidak berdiri sendiri. Ada juga gagasan lainnya, yakni merapikan permukiman warga existing yang sudah ada sejak lama di kawasan pesantren. Ditata, ada relokasi, tetapi plus dengan menghadirkan rasa aman dari sisi kepemilikan.

"Jika selama ini warga yang tinggal hanya memegang selembar surat transaksi, jual-beli, sejak beberapa tahun terakhir kami membantu menguruskan sertifikat hak milik," bebernya.

Semua itu, disebut Muzayyin yang sebelum jadi pembina yayasan (berdua dengan ayahnya KH Arif Marzuki) jadi pimpinan pesantren pada 2015, bukan tindakan pribadi. Tindakan-tindakan itu atas nama yayasan.

Dia mencontohkan saat menjalin kerja sama dengan pengembang untuk rumah komersial, yang tanda tangan nota kesepahaman itu adalah abahnya, KH Arif Marzuki.

"Ujungnya adalah untuk kepentingan lembaga. Ini tidak bertentangan dengan hukum positif dan norma lembaga," tambahnya.

Pada era sebelum dia, Muzayyin mengisahkan bahwa langkah ekonomi untuk mendanai operasioanl pesantren sudah lazim dilakukan. Misalnya yayasan lepas tanah untuk kemudian dibanguni Perumahan Haji Banca. Ada juga tanah yang dibuat kavling-kavling untuk dijual ke warga.

Darul Istiqamah didirikan KH Marzuki Hasan pada 1970 kemudian dilanjutkan KH Arif Marzuki.

“Saya ikut terlibat di pesantren sejak 10 tahunan lalu,” ucap Muzayyin.

Alumni Universitas Islam Jakarta itu menyebut keterlibatannya sebagai keterpanggilan untuk menjadikan Darul Istiqamah semakin kuat dan berkembang dalam bidang pendidikan dan dakwah.

Muzayyin diamanahi abahnya pada 2015. Kini, Muzayyin masih di pucuk tertinggi. Berdua dengan abahnya sebagai dewan pembina. Sepanjang itu, alumni Universitas Islam Jakarta tersebut mengaku tak pernah beririsan dengan abahnya. Dia memposisikan diri secara profesional sebagai perwakilan dari belasan bersaudara, tetapi menaruh hormat yang sedemikian besar kepada orang tua.

“Saya selalu jadikan orang tua, abah dan ummi sebagai rujukan dalam setiap tindakan. Semua keputusan yang saya ambil atas nama lembaga dipastikan atas restu dan bahkan instruksi beliau,” tambahnya. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Pendidikan #Pesantren Darul Istiqamah

Berita Populer