BANTUL, BUKAMATA - Hari itu, Minggu, 25 April 2021. Bandiman membanting tulang, untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Driver ojol itu pontang panting ke sana kemari, melayani pelanggan. Hingga bertemu Nani Aprilliani Nurjaman (20).
Wanita cantik itu memesan secara offline. Hendak mengirim paket sate ke pelanggan bernama Tomy. Alamatnya diberikan Nani. Tadinya, ongkosnya cuma Rp25 ribu. Nani naikkan jadi Rp30 ribu.
Sore itu sudah hampir buka, ketika Bandiman sampai di alamat dimaksud. Ketemu langsung dengan Tomy. Namun, Tomy memberikan sate itu kepada Bandiman. Anggota Polresta Yogyakarta itu terharu melihat wajah kuyu Bandiman, setelah driver ojol itu lelah seharian mencari nafkah.
"Ambillah, untuk buka puasa anak istri bapak," ujar Tomy.
Bukan main gembiranya hati Bandiman. Rasa syukur terus terucap. Ada lagi panganan buka puasa untuk anak istri.
Magrib itu, saat azan berkumandang, Bandiman, istri serta anaknya, NFP (10), dengan riang menyantap sate. Bandiman tak ikut. Cukup bahagia dia bisa menghadirkan makanan kesukaan istri dan anak saat berbuka puasa.
Tapi tiba-tiba, anak dan istrinya mengeluh pada lambung. Terasa sangat panas. Demikian pula sang anak. Keduanya dilarikan ke rumah sakit. Sang istri tertolong. Namun, sang bocah tidak. Dia mengembuskan napas terakhir.
Setelah dicek, ternyata sate itu mengandung racun. Jenisnya Sianida. Penyelidikan mengarah kepada si pengirim sate, Nani Aprilliani.
Gadis pegawai salon kecantikan itu dibekuk. Terungkaplah motifnya. Sasarannya sebenarnya untuk Tomy. Gadis itu telanjur cinta ke Tomy. Sempat pacaran. Namun Tomy menikahi wanita lain.
Nani sangat kecewa. Terpikir untuk memberi pelajaran ke Tomy. Sebenarnya, saat Nani pacaran dengan Tomy, ada pelanggannya yang menaruh hati ke Nani. Inisialnya R. Namun, Nani menolaknya, karena hatinya sudah telanjur terpaut ke Tomy.
Namun, saat Nani kecewa, dia curhat ke R. Lalu, R menyarankan untuk memberi pelajaran. Caranya, mengirimkan makanan kesukaan ke Tomy yang sudah dibumbui sianida.
"Efeknya hanya sakit perut dan muntah," ujar R.
Nani pun setuju. Tiga bulan lalu, dia sudah memesan sianida. Via online. Namun, baru digunakan membumbui sate pada Minggu, 25 April lalu. Dia juga mengikuti saran R, agar memesan ojek lewat offline, agar tak terendus. Dia menggunakan nama pengirim Abdul Hamid.
Saat mendengar sate sianidanya salah sasaran, Nani sangat panik. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Nyawa NFP, bocah 10 tahun anak tukang ojol, Bandiman, tak bisa lagi dikembalikan.
Dir Reskrimmum Polda DIY Kombes Burkan Rudy Satriya mengungkap, pembelian KCN dan kejadian keracunan ini cukup berselang lama.
Sehingga kepolisian menyimpulkan, sebenarnya pelaku telah merancang kejadian tersebut.
“Karena pemesanan KCN ini sudah dari kira-kira tiga bulan yang lalu,” kata Burkan.
Nani kini terancam hukuman mati atas perbuatannya tersebut.