Ririn
Ririn

Minggu, 25 April 2021 12:55

Armenia menandai peringatan ke-106 pembunuhan massal pada sebuah upacara di ibu kota Yerevan pada hari Sabtu.
Armenia menandai peringatan ke-106 pembunuhan massal pada sebuah upacara di ibu kota Yerevan pada hari Sabtu.

Biden Nyatakan Pembunuhan Massal Armenia Sebagai Genosida

Pembunuhan itu terjadi di masa-masa memudarnya Kekaisaran Ottoman, cikal bakal Turki modern.

BUKAMATA - Joe Biden telah menjadi presiden AS pertama yang secara resmi menyatakan pembantaian orang-orang Armenia tahun 1915 sebagai genosida.

Pembunuhan itu terjadi di masa-masa memudarnya Kekaisaran Ottoman, cikal bakal Turki modern.

Menengok sejarah pada saat itu, Turki Utsmaniyah menuduh orang-orang Armenia Kristen melakukan pengkhianatan setelah menderita kekalahan telak di tangan pasukan Rusia dan mulai mendeportasi mereka secara massal ke gurun Suriah dan tempat lain. Ratusan ribu orang Armenia dibantai atau meninggal karena kelaparan atau penyakit.

Kekejaman saat itu dicatat secara luas oleh para saksi termasuk jurnalis, misionaris, dan diplomat.

Orang Armenia mengatakan bahwa ada sekitar 1,5 juta orang tewas. Sementara Turki memperkirakan totalnya mendekati 300.000.

Meskipun para pejabat Turki telah menerima bahwa kekejaman telah terjadi, mereka berpendapat bahwa tidak ada upaya sistematis untuk menghancurkan orang-orang Kristen Armenia. Turki mengatakan banyak Muslim Turki juga tewas dalam kekacauan Perang Dunia Pertama.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Biden saat Armenia memperingati dimulainya pembunuhan massal, ia mengatakan: "Kami mengingat kehidupan semua orang yang tewas dalam genosida Armenia era Ottoman dan berkomitmen kembali untuk mencegah kekejaman seperti itu terjadi lagi."

"Dan kami ingat agar kami tetap waspada terhadap pengaruh korosif dari kebencian dalam segala bentuknya."

Biden menambahkan bahwa niatnya bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memastikan bahwa apa yang terjadi tidak pernah terulang.

Sebagai pernadingan, pemerintahan pendahulu Biden, Donald Trump, mengatakan mereka tidak menganggap pembunuhan itu sebagai genosida. Trump malah menyebutnya sebagai "salah satu kekejaman massal terburuk di abad ke-20".

Di lain sisi, Turki menolak istilah "genosida" yang disebutkan Biden, meski mereka mengakui kekejaman yang terjadi.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka "sepenuhnya menolak" keputusan AS.

"Kami tidak akan mengambil pelajaran dari siapa pun tentang sejarah kami," cuitnya.

Belakangan kementerian luar negeri Turki mengatakan telah memanggil duta besar AS untuk menyampaikan "reaksi keras" Ankara.

Sementara itu, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan kata-kata Biden telah "menghormati ingatan" mereka yang telah meninggal.

"AS sekali lagi menunjukkan komitmennya yang teguh untuk melindungi hak asasi manusia dan nilai-nilai universal," tulis Pashinyan di Twitter.

#Armenia #Turki