BUKAMATA - Sedikitnya 43 anak-anak tewas di tangan angkatan bersenjata Myanmar sejak kudeta militer di negara itu dua bulan lalu, menurut Save the Children.
Organisasi hak asasi manusia itu mengatakan korban termuda baru berusia enam tahun yang ditembak di rumahnya, dan bahwa Myanmar berada dalam "situasi mimpi buruk".
"Kami terkejut bahwa anak-anak terus menjadi sasaran serangan fatal ini, meskipun ada seruan berulang kali untuk melindungi anak-anak dari bahaya," kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan.
“Sangat mengerikan bahwa beberapa dari anak-anak ini dilaporkan dibunuh di rumah, di mana mereka seharusnya aman dari bahaya.”
Kelompok hak asasi ini memperingatkan bahwa kekerasan berdampak pada kesehatan mental anak-anak karena mereka menderita ketakutan, kesedihan dan stres.
"Anak-anak telah menyaksikan kekerasan dan kengerian," katanya dalam sebuah pernyataan. "Jelas bahwa Myanmar bukan lagi tempat yang aman bagi anak-anak."
Myanmar telah dilanda protes sejak tentara menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.
Suu Kyi dan anggota Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) lainnya telah ditahan dan menghadapi berbagai tuduhan.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Gempa 7,7 Magnitudo Hantam Myanmar, Tempat Bersejarah hingga Fasilitas Umum Rusak Parah
-
Dihadapan PBB, Indonesia Nyatakan Dukung Keras Palestina dan Myanmar
-
Presiden Jokowi Perintahkan Segera Evakuasi 20 Korban TPPO di Myanmar
-
Timnas Indonesia Menang Telak Lawan Myanmar
-
WNI Disekap di Myanmar, DPR Sebut Pemerintah Lamban