Ririn : Sabtu, 27 Maret 2021 10:50
Anggota pasukan keamanan Myanmar di sebuah jalan di Taunggyi di negara bagian Shan, selama penumpasan protes terhadap kudeta militer. (Foto: Facebook / AFP / Getty Images)

BUKAMATA - Junta militer yang berkuasa di Myanmar telah memperingatkan bahwa pengunjuk rasa pro-demokrasi bisa ditembak jika turun ke jalan pada Hari Angkatan Bersenjata.

“Anda harus belajar dari tragedi kematian yang buruk sebelumnya bahwa Anda bisa berada dalam bahaya tertembak di kepala dan punggung,” demikian pernyataan militer yang disiarkan melalui saluran berita negara MRTV.

Peringatan itu tidak secara khusus mengatakan bahwa pasukan keamanan telah diberi perintah untuk menembak, tapi itu menunjukkan bahwa militer bertekad mencegah gangguan apa pun di sekitar Hari Angkatan Bersenjata pada hari Sabtu.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan hampir setiap hari sejak kudeta. Dan pada hari Jumat, empat orang lagi ditembak mati, sehingga menambah korban tewas menjadi lebih 300 orang.

Saksi mata mengatakan, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa yang mengibarkan bendera hitam di kota selatan Myeik.

"Dua orang tewas akibat tembakan di kepala," kata saksi itu kepada Reuters. "Kami tidak dapat mengambil mayat (ketiga) karena banyak pasukan keamanan ada di sana".

Saksi lain mengatakan dia telah melihat mayat keempat.

Menurut angka dari kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) setidaknya 320 pengunjuk rasa telah tewas dalam kerusuhan di Myanmar.

Datanya menunjukkan bahwa setidaknya 25% dari mereka tewas akibat tembakan di kepala, menimbulkan kecurigaan bahwa mereka sengaja menjadi sasaran pembunuhan.

Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan militer telah berbalik melawan warganya sendiri.

"Wanita, pemuda dan anak-anak termasuk di antara mereka yang terbunuh," katanya dalam sebuah pernyataan.

TAG