BUKAMATA - Sebanyak 38 pengunjuk rasa tewas dalam salah satu hari paling berdarah di Myanmar sejak militer menggulingkan pemerintah.
Menurut laporan, pasukan keamanan menewaskan sedikitnya 14 pengunjuk rasa di pinggiran kota industri Hlaingthaya yang miskin di kota Yangon. Itu terjadi pada hari Minggu setelah pabrik-pabrik yang didanai China di daerah itu dibakar.
Sebanyak 14 orang lagi dilaporkan tewas di tempat lain di Yangon dan bagian lain Myanmar.
Kedutaan Besar China mengatakan, banyak staf China terluka dan terperangkap dalam serangan pembakaran oleh penyerang tak dikenal, dan mereka telah meminta Myanmar untuk melindungi properti dan warga China.
"China mendesak Myanmar untuk mengambil langkah efektif lebih lanjut untuk menghentikan semua tindakan kekerasan, menghukum pelaku sesuai dengan hukum dan memastikan keselamatan jiwa dan properti perusahaan dan personel China di Myanmar," kata Kedutaan China dalam sebuah pernyataannya.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pembakaran pabrik.
Televisi Myawadday yang dikelola tentara mengatakan bahwa pasukan keamanan bertindak setelah empat pabrik garmen dan pabrik pupuk dibakar.
Akibat kekacauan tersebut, darurat militer diberlakukan di Hlaingthaya dan distrik lain dari pusat komersial Myanmar.
Kematian terbaru menjadikan korban dari protes anti kudeta telah menjadi lebih dari 100. Sementara itu kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik mengatakan lebih dari 2.100 juga telah ditangkap pada hari Sabtu.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Gempa 7,7 Magnitudo Hantam Myanmar, Tempat Bersejarah hingga Fasilitas Umum Rusak Parah
-
Dihadapan PBB, Indonesia Nyatakan Dukung Keras Palestina dan Myanmar
-
Presiden Jokowi Perintahkan Segera Evakuasi 20 Korban TPPO di Myanmar
-
Timnas Indonesia Menang Telak Lawan Myanmar
-
WNI Disekap di Myanmar, DPR Sebut Pemerintah Lamban