BUKAMATA - Ribuan orang turun ke jalan pada hari Sabtu untuk memprotes kudeta militer yang menyebabkan penahanan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.
The Guardian melaporkan bahwa protes itu berpusat di kota terbesar di negara itu, Yangon, di mana para demonstran meneriakkan "turunkan kediktatoran militer."
Demonstrasi itu terjadi setelah pihak berwenang membatasi akses Internet dan memblokir beberapa situs media sosial, seperti Facebook, Twitter dan Instagram.
Menurut perusahaan telekomunikasi Norwegia, Telenor, yang beroperasi di Myanmar, mereka telah menerima perintah dari pemerintah militer untuk menutup jaringannya secara nasional karena peredaran berita palsu, serta untuk menjaga stabilitas bangsa dan kepentingan publik.
"Telenor Myanmar, sebagai perusahaan lokal, terikat oleh hukum setempat dan perlu menangani situasi yang tidak teratur dan sulit ini," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan kepada The Washington Post.
Militer Myanmar mengambil kendali pemerintah sipil dan menerapkan keadaan darurat nasional pada hari Senin. Mereka menahan Suu Kyi dan pejabat lainnya yang dipilih secara demokratis.
Militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, juga telah menyatakan keadaan darurat selama setahun.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Gempa 7,7 Magnitudo Hantam Myanmar, Tempat Bersejarah hingga Fasilitas Umum Rusak Parah
-
Dihadapan PBB, Indonesia Nyatakan Dukung Keras Palestina dan Myanmar
-
Presiden Jokowi Perintahkan Segera Evakuasi 20 Korban TPPO di Myanmar
-
Timnas Indonesia Menang Telak Lawan Myanmar
-
WNI Disekap di Myanmar, DPR Sebut Pemerintah Lamban