MAJENE, BUKAMATA - Bersama suami dan lima anaknya, Nurbiah (53), meninggalkan rumahnya dan lari ke tenda pengungsi di Desa Totolisi, Kecamatan Cendana, Majene, Sulbar. Itu sejak gempa magnitudo 6,2 mengguncang wilayah itu.
Di dalam tenda yang seadanya, tanpa selimut, Nurbiah menggigil. Sudah beberapa hari ini, mereka belum tersentuh bantuan.
Kepala Desa Totolisi, Suardi, sempat mengunjungi warganya itu pada Senin, 18 Januari 2021. Kepada kepala desa, Nurbiah mengeluh menggigil kedinginan. Dia juga mengaku batuk berdahak.
Lalu usai salat subuh pada Selasa, 19 Januari 2021, Suardi berjalan kembali berkeliling tenda. Di situ dia mendapat kabar kalau ada salah satu penghuni tenda pengungsi meninggal dunia.
Suardi bergegas ke tenda yang dimaksud. Ternyata, warga yang meninggal itu adalah Nurbiah.
"Saya ke situ saya perkirakan pukul 06.00 Wita, saya sudah pastikan bahwa almarhumah ini sudah meninggal," ungkap Suardi.
Suardi mengaku tidak dapat berbuat banyak. Bantuan logistik dari pemerintah kecamatan atau kabupaten atau provinsi sama sekali belum menjangkau wilayah pengungsian mereka di Desa Totolisi, Kecamatan Cendana, Kabupaten Majene.
"Sama sekali tidak ada Pak. Belum ada bantuan. Artinya yang saya pahami secara resmi (belum ada)," tambah Suardi.
BERITA TERKAIT
-
Pasca Gempa, Banjir Landa Mamuju Ibu Kota Sulawesi Barat, Netizen: Pray For Mamuju
-
Hubungi Gubernur Sulbar, Gubernur Sulsel Siap Bantu Penanganan Gempa di Mamuju
-
BNPB Imbau Warga Tetap Siaga dan Waspada Gempa Susulan di Mamuju
-
Warga Panik di Mamuju Akibat Gempa, Plafon Gedung PKK Mamuju Runtuh
-
Gempa Bumi Guncang Mamuju Sulbar 5,8 Magnitudo, Terasa Sampai di Pangkep