Ulfa
Ulfa

Senin, 18 Januari 2021 17:24

Ilustrasi.
Ilustrasi.

25 Relawan Uji Vaksin Sinovac Positif Covid-19, Mengapa Bisa?

Relawan positif Corona itu terdiri dari 18 penerima plasebo dan tujuh orang yang telah mendapatkan dua kali vaksinasi.

BUKAMATA - Sebanyak 25 relawan uji klinis kandidat vaksin dari Sinovac terkonfirmasi positif virus corona (Covid-19).

Ketua Tim Uji Klinis Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Unpad, Kusnandi Rusmil mengatakan, relawan positif Corona itu terdiri dari 18 penerima plasebo dan tujuh orang yang telah mendapatkan dua kali vaksinasi.

"Untuk uji klinis kemarin itu kan ada yang dapat vaksin, ada yang dapat plasebo. Nanti dilihat berapa yang sakit dapat vaksin, berapa yang sakit dapat plasebo. Dari hasil kemarin yang dapat vaksin yang sakit (terpapar Covid-19-19) tujuh, yang dapat plasebo 18 (relawan)," kata Kusnandi, Senin (18/1/2021).

Menurut Kusnandi, penerima vaksin itu tertular saat berkegiatan di luar. Rata-rata bagi yang terpapar tapi telah menerima vaksin, gejala Covid-19 yang dialaminya masuk dalam kategori ringan.

"Karena kan yang ikut uji klinis banyak yang kemana-mana, dan boleh kemana-mana. Kita tetap kontrol dan dia kalau ada gejala di-swab sama kita. Tapi sebagian besar itu bergejala ringan dan enggak dirawat," tutur Kusnandi.

"Nah yang plasebo ada yang dirawat. Orang yang diuji klinis itu boleh kemana-mana, enggak ada yang dilarang sehingga dia mempunyai kesempatan dapat penyakit sama dengan normal," tambahnya.

Menurut Kusnadi soal adanya relawan yang positif adalah hal lumrah dalam penelitian sehingga keluarlah angka efikasinya.

"Ya itulah gunanya penelitian ada berapa yang sakit supaya kita bisa tahu berapa efikasi (kemanjuran) dari vaksin tersebut. Kan kita meneliti supaya tahu, manjur tidak vaksin saya. Jadi memang orang yang divaksin sama yang dapat plasebo itu disuruh kemana-mana supaya dia punya kesempatan bertemu orang-orang yang tertular covid, badannya kebal atau tidak," kata Kusnandi.

BPOM RI pun telah mengumumkan pekan lalu tingkat efikasi atau kemanjuran dari vaksin ini membentuk antibodi di kisaran 65%. Angka tersebut masih berada di atas batas aman yang ditetapkan WHO yakni 50%. Kusnandi mengatakan, 25 relawan yang terpapar COVID-19 pun masuk ke dalam perhitungan efikasi.

"Nanti dibandingkan yang dapat vaksin berapa, yang sakit plasebo berapa, yang sakit kemudian dihitung efikasi ketemulah 65 persen. Turki kan 90 persen ke atas kalau umpamanya Brasil tadinya 75 tapi sekarang turun jadi 50 persen. Dia tinggal mengubah kriteria inklusinya aja tergantung kita menghitungnya jadi bisa berubah-ubah," bebernya dilansir detikcom.

Ia menegaskan kembali bahwa vaksin berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, walau demikian dalam beberapa kasus tertentu ada yang memiliki gangguan sehingga antibodi dari vaksin tak bisa dibentuk secara optimal. Sehingga protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan, mengingat masih ada potensi tertular.

"Semuanya harus ikut protokol kesehatan vaksin aja kurang. Orang sudah divaksin tapi enggak ikut protokol kesehatan dia bisa menularkan penyakit ke orang lain, karena kumannya itu kan ada di baju, di leher. Sehingga setiap orang harus menjaga diri supaya tidak menularkan," ujar Kusnandi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Vaksin Covid-19

Berita Populer