JAKARTA, BUKAMATA - Mata teduh dan senyum menyejukkan Syekh Ali Jaber tak ada lagi. Pendakwah dan ulama kharismatik kelahiran Madinah, Arab Saudi, pada 3 Februari 1976 itu, sudah menghadap ilahi. Tadi pagi, di RS Yarsi Cempaka Putih.
Awal Januari 2020 lalu, Syekh Ali Jaber sudah mengantongi kewarganegaraan Indonesia. Itu bentuk kecintaan pria bernama asli Ali Saleh Mohammed Ali Jaber ini kepada Indonesia. Bahkan, dia pernah berwasiat. Jika ditakdirkan meninggal di Indonesia, dia ingin dimakamkan di Lombok, daerah yang pertama kali dikunjunginya pada 2008 lalu.
Syekh Ali Jaber, menjalani pendidikan formal dari ibtidaiyah hingga Aliyah di Madinah. Setelah lulus sekolah menengah, Syekh Ali Jaber melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Alquran pada tokoh dan ulama ternama di Arab Saudi.
Syekh Ali Jaber mulai berdakwah di Indonesia pada tahun 2008 lalu. Di sebuah masjid di Lombok. Namun, jauh sebelum itu, pada saat Syekh Ali Jaber masih berusia 13 tahun, dia sudah diberi amanah menjadi imam salat di sebuah masjid di Kota Madinah. Bahkan, pada usia 10 tahun, Syekh Ali sudah hafal 30 juz.
Sejak kecil, Syekh Ali memang telah mendapatkan bimbingan agama dari ayahnya yang juga seorang penceramah. Sang ayah memang mengharapkan Syekh Ali Jaber sebagai anak pertama yang bisa mengikuti jejaknya.
Semasa kecil, Syekh Ali Jaber telah belajar Alquran dan merasa punya tanggung jawab atas cita-cita ayahnya.
Selama belajar agama, Syekh Ali Jaber rutin mengajar dan berdakwah. Ia juga aktif sebagai guru hafalan Alquran di Masjid Nabawi.
Pada 2008, Syekh Ali Jaber menikah dengan Umi Nadia, wanita asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Keduanya dikaruniai seorang anak yang diberi nama Hasan.
Saat di Lombok, Syekh Ali Jaber menjadi guru hafalan Alquran, Imam salat, dan khatib di Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara Lombok, Indonesia.
Karier dakwahnya berlanjut saat ia diminta menjadi Imam salat tarawih di Masjid Sudan Kelapa, Menteng, Jakarta.
Ia juga menjadi pembimbing tadarus Alquran dan imam salat Ied di Masjid Sunda kelapa, Menteng, Jakarta. Kehadiran Syekh Ali Jaber disambutan baik oleh masyarakat Indonesia karena dakwahnya yang menyejukkan, penyampaiannya sangat rinci dilengkapi dengan ayat-ayat Alquran dan hadis.
Syekh Ali Jaber mulai sering dipanggil keliling Indonesia untuk syiar Islam. Syekh Ali Jaber mulai rutin mengisi acara Damai Indonesiaku di TvOne dan menjadi juri Hafizh Indonesia di stasiun televisi RCTI.
Ia juga mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber yang berkantor di Jatinegara, Jakarta.
Karier Syekh Ali Jaber terus mengalir, bahkan ia juga mulai menjadi aktor dalam film "Surga Menanti" (2016).
Meski sudah tenar, Syekh Ali Jaber tetap berendah hati dan masih berkeliling menjadi khatib Jumat di masjid-masjid kecil di pelosok kota dan daerah.
Syekh Ali Jaber dikabarkan menjadi korban penganiyaan. Peristiwa ini terjadi di Masjid Afaludin Tamin Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung pada Minggu (13/9/2020). Syekh Ali Jaber saat itu, mengalami luka tusuk di bagian bahu kanan. Saat itu, warga hendak menghakimi secara massal sang penusuk. Namun sambil memegang bahu kanannya yang masih menancap pisau, Syekh Ali menenangkan warga. Meminta mereka tak main hakim sendiri.
Tadi pagi, Ustaz Yusuf Mansur mengabarkan, Syekh Ali Jaber meninggal pukul 08.30 WIB di salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Pusat. "8.30 WIB di RS Yarsi Cempaka Putih," tulisnya.
Kondisi Syekh Ali Jaber pun sempat kritis semalam.
"Semalam mulai kritis jam 23.00. Sudah pasang ventilator kurang lebih 16 hari," sambungnya.
Awalnya Syekh Ali Jaber masuk rumah sakit karena Corona. Namun, saat ini Syekh Ali Jaber sudah dinyatakan negatif Corona.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Rasakan Manfaat Luar Biasa Dalam Hidupmu Jika Kamu Rutin Sedekah Subuh
-
Sederhana! Syekh Ali Jaber Tak Punya Rumah dan Mobil Semasa Hidup
-
Bukan di Lombok, Syekh Ali Jaber Dimakamkan di Pondok Pesantren Ustaz Yusuf Mansur
-
Wagub Sulsel Sampaikan Belasungkawa Atas Meninggalnya Syekh Ali Jaber
-
Kisah Syekh Ali Jaber Dapat Julukan "Ali Zidane" dari Warga Lombok