Redaksi : Rabu, 06 Januari 2021 09:06
Puing yang diduga serpihan roket milik China yang meledak 10 April 2020 lalu.

KALTENG, BUKAMATA - Jumat, 10 April 2020 lalu, roket China National Space Administration (CNSA) mengangkasa. Membawa satelit Nusantara Dua atau Palapa N-2.

Roket itu lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang di Provinsi Sichuan, China pada pukul 7.46 Kamis malam (9/4/2020,) seperti dilaporkan Xinhua.

Namun di langit, roket itu meledak. Tidak dijelaskan di mana roket itu jatuh, tetapi kantor Keamanan Dalam Negeri dan Pertahanan Sipil Guam menyampaikan ada benda berapi-api di langit, yang dikaitkan dengan kegagalan peluncuran. Saat itu, di media sosial beredar rekaman video soal satelit yang terbakar.

Puing-puingnya lalu ditemukan warga di Teluk Ranggau, Sei Cabang, Kumai, Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso menceritakan ketika satelit Nusantara Dua (Palapa-N1) gagal mencapai orbit karena ada anomali di stage ketiga. Satelit itu pun jatuh di laut dan tidak diselamatkan.

Nusantara Dua diluncurkan Xichang Satellite Launch Center (XLSC), Xichang, China, Kamis kemarin (9/4/2020). Tidak ada kendala pada proses peluncuran, tiba-tiba saat berada di angkasa ada puing-puing yang bertebaran.

Adi mengatakan tak ada masalah saat peluncuran memasuki stage pertama dan kedua. Namun persoalan muncul saat stage ketiga, di mana dua roket pendorong, salah satunya tidak menyala.

"Sehingga tidak mendapatkan kecepatan yang cukup untuk masuk ke orbit yang ditentukan," ujar Adi dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (10/4/2020).

Nusantara Dua diketahui diproyeksikan mengisi di slot orbit 113 derajat Bujur Timur (BT) yang akan dimanfaatkan Indosat Ooredoo sebagai penyedia jasa satelit untuk menunjang bisnis media broadcasting di Indonesia.

Puing yang sempat membuat geger warga sekitar itu ditemukan pada Senin (4/1/2021) sore. Polisi mendapat informasi penemuan puing badan pesawat itu dari seorang warga bernama M Yusuf.

Menurut Yusuf, penemuan diduga puing badan pesawat karena di pantai tersebut sedang musim gelombang. Jadi, tidak tertutup kemungkinan diduga puing pesawat tersebut hanyut terbawa arus hingga sampai ke Dusun Teluk Raggau.

BERITA TERKAIT