PANGKEP, BUKAMATA - Salpiah fokus pada sebuah keranjang rotan di depannya. Belum jadi. Masih sementara dia sisip-sisipkan anyamannya ke tulang-tulang rangka keranjang.
Mengenakan masker, daster merah kembang-kembang, dia tampak fokus. Jari jemarinya dengan lincah menyisipkan anyaman-anyaman rotan ke sela-sela tulang rangka keranjang di biliknya di Kecamatan Ma'rang, Pangkep, Sulsel.
Di atas papan kayu yang sebagian dialasi tikar plastik itu, bertumpuk keranjang yang sudah rampung. Namun belum dipernis. Di bagian luar, bersandar di dinding seng, juga ada keranjang-keranjang rotan dipajang. Ini sudah dipernis. Ada berbagai ukuran. Juga berbagai bentuk.
Salpiah sudah lama menekuni kerajinan ini. Sejak pulang merantau jadi TKW di Malaysia. Apalagi saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia awal 2020 lalu, Salpiah makin intens di rumah. Menekuni keterampilan yang juga jadi penopang hidupnya.
"Ya, adalah sedikit yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari," uiar Salpiah.
Sambil membatasi interaksi langsung dengan orang lain, Salpiah berusaha menjadikan waktunya lebih produktif. Selain kesehatan lebih terjamin karena bisa memutus rantai corona dan memperkecil kemungkinan tertular, produk keranjang rotan juga bisa lebih banyak dihasilkan.
Keranjang itu diharapkan bisa menjadi penopang hidupnya. Membantu perekonomian keluarga. Dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp25 ribu, hingga Rp450 ribu. Tergantung dari ukuran.
Salpiah tak sendiri. Hampir sebagian besar ibu-ibu rumah tangga di Ma'rang menekuni kerajinan dari rotan itu. Meski kala pandemi Covid-19 saat ini, pembelinya sedikit mengalami penurunan, namun setidaknya, tetap ada yang bisa membantu mereka melanjutkan hidup, ketika mereka diwajibkan jaga jarak, juga harus tetap tinggal di rumah.