Ririn : Senin, 16 November 2020 12:55
Para pengunjuk rasa yang mengendarai sepeda motor menunggu kabar siapa yang akan menjadi presiden sementara (AP)

BUKAMATA - Peru kini tidak memiliki presiden. Pada Minggu sore, kongres gagal menunjuk presiden sementara baru, setelah Manuel Merino mengumumkan pengunduran dirinya.

Setelah melakukan pertemuan selama beberapa jam, para pemimpin kongres muncul dan mengumumkan bahwa sesi mereka sedang istirahat, tanpa keputusan apa pun dan akan berkumpul kembali di kemudian hari.

"Hasil pemungutan suara pertama adalah 42 suara mendukung, 52 menentang dan 25 abstain. Sesi ditangguhkan," demikian bunyi pernyataan yang dirilis di akun Twitter resmi Kongres Peru pada Minggu malam.

Dalam tweet terpisah, Kongres merilis daftar kandidat yang akan dipilih selama sesi darurat hari Minggu. Dia adalah Rocio Silva Santisteban, yang diusulkan sebagai presiden sementara, sedangkan Francisco Sagasti Hochhausler, sebagai wakilnya.

Kini, negara itu menghadapi dua kemungkinan untuk keluar dari krisis. Pertama, kongres dapat mengajukan kandidat baru atau pengadilan tertinggi negara turun tangan.

Tetapi dengan tidak adanya kepastian, beberapa orang Peru menyerukan protes baru dan negara itu kian di ambang kekacauan.

Peru memiliki banyak hal yang dipertaruhkan. Negara ini menghadapi virus corona paling mematikan di dunia dan para analis politik mengatakan krisis konstitusional telah membahayakan demokrasi negara itu.

Peru juga telah mengalami salah satu kontraksi ekonomi terburuk di Amerika Latin. Dana Moneter Internasional memproyeksikan penurunan 14% dalam PDB tahun ini.

Kongres Peru memicu bencana seminggu yang lalu ketika anggota parlemen memilih untuk menggulingkan Presiden Vizcarra, dengan tuduhan menerima suap.

Ketua Kongres Peru, Manuel Merino kemudian ditunjuk sebagai presiden sementara negara itu. Namun dia mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Minggu, setelah menghadapi protes massal.

Ditambah lagi, 13 dari 18 menteri pemerintah baru Peru mengundurkan diri sebagai protes terhadap kebrutalan polisi dalam menghadapi pengunjuk rasa.

Pada hari Sabtu, setidaknya dua orang tewas dan hampir 100 lainnya luka-luka selama protes menentang pemakzulan Vizcarra. Lebih dari 60 korban luka dirawat di rumah sakit. Polisi dilaporkan menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.

TAG