MAKASSAR, BUKAMATA - Haji Yusuf masih mengingatnya dengan baik. Sekitar tahun 1950-an. Kala itu, dia masih kanak-kanak, di kampungnya, Belawa, Wajo, Sulsel. Nyaris setiap hari ada orang meninggal tiba-tiba.
Ketika jenazah selesai dimakamkan, para pembawa jenazah tiba-tiba bertumbangan. Saat itu, Haji Yusuf mendengar dari orang tuanya, bahwa orang-orang terkena sai.
Sai adalah sejenis wabah penyakit. Orang Bugis jaman dahulu memaknainya sebagai penyakit yang timbul akibat kemurkaan sang pencipta atau dewata. Sai dalam bahasa Bugis kuno berarti marah, sebagaimana diungkap dalam buku "Tau" yang ditulis Halilintar Latief.
Penyakit sai saat itu dimaknai hanya timbul dalam suatu lingkungan tertentu, yang kebanyakan warganya tidak mengindahkan lagi norma-norma sosial, tatakrama dan aturan-aturan adat.
Saking seramnya wabah ini, orang Bugis yang dituduh melakukan kesalahan dan ingin membuktikan bahwa dia tak bersalah, terkadang bersumpah "Nanreka sai" yang artinya, "Saya akan terjangkit wabah (jika melakukan itu)".
Saat sai mewabah, orang tua dahulu kata H Yusuf, menggantung sarung di dahan pohon asam. Baru anak-anaknya ditidurkan di dalam sarung ayunan itu. Cara itu kata H Yusuf, mirip dengan isolasi atau social distancing dan physical distancing saat ini.
Anak-anak saat itu, juga tidak dibiarkan berkeliaran. Setiap magrib tiba, mereka diimbau masuk ke dalam rumah. Orang tua lalu membuat asap di bawah tangga rumah.
Di setiap tangga, juga disediakan tempayan berisi air untuk tempat cuci tangan dan cuci kaki. Usai cuci kaki, anak-anak harus melewati anak tangga berasap sebelum masuk ke dalam rumah yang rata-rata kala itu merupakan rumah panggung.
H Yusuf yang saat ini tinggal di Sudiang, juga menukil beberapa petuah orang tua dulu terkait sai. Di antaranya:
Narekko polei sai'e; atikeriwi nennia uraiwi alemu (Ketika wabah merajalela; waspada, jaga jarak dan obati dirimu).
Dia pun menjelaskan makna tersirat dan tersurat dari pesan leluhur tersebut. Menurutnya, dari pribahasa itu, ada dua hal yang bisa diterapkan saat ini. Yakni; "ATIKERIWI ALEMU" berarti waspada, hati-hati, jaga jarak. Ini kata dia, bisa disamakan dengan social distancing dan physical distancing saat ini dalam mengantisipasi dan mencegah wabah penyakit.
Yang lainnya, sambil social distancing, juga "URAIWI ALEMU" atau obati dirimu. Yakni dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang dianjurkan oleh dokter atau dukun pada saat itu, demi meningkatkan imun atau kekebalan tubuh.
BERITA TERKAIT
-
OJK Setop Restrukturisasi Kredit, Indonesia Resmi Akhiri Era Pandemi Covid-19
-
Kualitas KPR Indonesia Kian Buruk, NPL Lebih Tinggi dari Saat Pandemi
-
Masa Transisi Endemi, Pemerintah Tak Lagi Wajibkan Penggunaan Masker
-
Danny Pomanto Saling Sharing Pembelajaran Penanganan Pascacovid dengan Deputy Director Kemenkes Singapura
-
Ibadah Natal, Kapasitas Gereja Boleh 100 Persen