Redaksi : Senin, 05 Oktober 2020 21:21
Seorang ibu warga Mandai di belakang spanduk Tajerimin-Havid.

MAROS, BUKAMATA - Giliran Kampung Cedde di Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai yang disambangi paslon nomor urut 1 di Pilkada Maros, Andi Tajerimin-Havid S Fasha, Senin, 5 Oktober 2020. 

Tahfidz, akronim paket Golkar, PKB, Demokrat, dan Gerindra ini, disambut ibu-ibu yang menampilkan pertunjukan rebana. 

Tajerimin menuturkan bahwa telah datang harapan baru bagi Maros. Harapan yang diaplikasikan dalam program kerja yang pro rakyat. Kebutuhan dari lahir hingga mati mengikutsertakan peran pemerintah daerah. 

Haeruddin, warga yang juga karib lama Tajerimin mengaku bersyukur ada sahabat yang mau membangun tanah kelahirannya.

"Kami di sini akan sepenuhnya mendukung Tahfidz. Kami akan berjuang di akar rumput untuk membangunkan semangat warga," ucapnya.

Pada acara ini juga hadir Lindiawati, istri Tajerimin. Dia berbagi kisah proses pencalonan suami tercinta. 

Ternyata, saat Tajerimin mulai punya keinginan ikut kontestasi Pilkada Maros, keluarga tidak langsung mendukung. 

“Saya malah tidak setuju. Anak-anak juga,” ujar Lindiawati. 

Tetapi akhirnya, wanita yang sudah 25 tahun mendampingi Tajerimin itu luluh. Itu setelah mendengar pengakuan suaminya soal alasan mau maju.

“Bapak bilang saya pulang ke Maros bukan untuk cari uang. Tetapi memang sudah waktunya untuk mengabdi,” tutur Lindiawati dengan suara bergetar karena haru.

Mendengar itu, kenang Lindiawati, dia tak lagi punya alibi untuk menolak. Maka dengan bismillah, dia pun mengiringi langkah kekasih hatinya mulai berjuang.

Perjuangan yang tidak mudah. Sebab sebagai tokoh baru pada perpolitikan Maros, perlu kerja keras untuk meyakinkan publik. Belum lagi gerilya mendapatkan dukungan parpol.

Lindiawati makin yakin setelah melihat program-program Tahfidz (Andi Tajerimin-Havid S Fasha). “Semuanya pro rakyat. Misi pengabdian bukan alasan belaka,” ucapnya.

Mengusung program dengan menjadikan peningkatan kesejahteraan rakyat membuat Lindiawati malah balik mendukung penuh. Sebab dia selalu ingat bagaimana perjuangan suaminya di tanah rantau. Datang ke Papua dari Maros 33 tahun lalu dengan hanya modal tekad, akhirnya bisa menjadi pebisnis dan kini dengan omzet cukup besar.

Tajerimin pada pilkada ini bahkan menolak sponsor karena masih mampu membiayai segala operasional, serta tak mau tersandera cukong. (*)