Ulfa : Senin, 07 September 2020 15:52
Ilustrasi.

BUKAMATA - Kata “polusi visual” heboh dibicarakan. Istilah itu dilontarkan seorang influencer perempuan di media sosial saat ia tak nyaman melihat penampilan fisik perempuan lain di sekitarnya.

Tak butuh lama bagi kasus yang dianggap warganet sebagai body shaming itu viral. Melihat hal tersebut, sebenarnya apa yang membuat wanita cenderung senang mengomentari penampilan fisik wanita lain?

Menurut penelitian ZAP Beauty Index 2020, 62 persen wanita Indonesia pernah menjadi korban body shaming.

National Eating Disorders Association (NEDA), Amerika Serikat, juga pernah mengatakan bahwa penyebab 65 persen orang mengalami gangguan makan adalah karena pengalaman body shaming yang dialami di masa lalu.

Menurut mereka, perundungan dan penghinaan terhadap bagian tubuh tetap membekas hingga usia korbannya mencapai 50-an.

Sebenarnya, pelaku body shaming bukan cuma perempuan, laki-laki pun melakukan hal semacam ini. Hanya saja, body shaming akan terasa lebih menyakitkan bila dilakukan sesama gender. Bukankah sesama gender seharusnya saling memahami?

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog berpendapat, ada beberapa faktor mengapa seseorang – dalam hal ini kaum hawa – sampai hati melakukan body shaming perempuan dan bukan melakukan women support women. Adapun sederet faktor yang dimaksud, antara lain:

Tidak Suka dengan Badan Sendiri tapi Melampiaskan ke Orang Lain

Psikolog Ikhsan mengatakan, “Orang yang mem-bully penampilan sering kali memproyeksikan bagian yang ia tidak suka di tubuhnya ke tubuh orang lain. Misalnya, sebenarnya ia tidak suka area perut dan bokongnya, tetapi ia berhasil mengubahnya.”

“Ketika ia melihat orang lain punya nasib yang sama dengan dirinya dulu (berkaitan dengan bentuk perut dan bokong juga), area tersebut akan menjadi concern dari si pem-bully untuk menyerang orang lain,” jelasnya.

Hal ini disebabkan oleh ketakutan, kecemasan, atau rendahnya self-esteem terhadap tubuh mereka sendiri.

Kurang Toleransi terhadap Perbedaan

Apa yang kita lihat di depan mata pasti tak selalu sesuai dengan keinginan. Ada sebagian orang yang biasa saja dengan hal itu.

Sayangnya, ada juga yang tidak menoleransi kondisi tersebut dan langsung menghakimi. Minimnya toleransi ujung-ujungnya menjadi penyebab body shaming.

Kurangnya Kemampuan Interpersonal dan Intrapersonal

Tak bisa dimungkiri, ada saatnya kita tidak terlalu suka dengan apa yang kita lihat dan rasakan. Psikolog Ikhsan mengatakan, itu sangat wajar.

Tetapi, kewajaran tersebut berubah menjadi masalah ketika ia langsung mengutarakannya tanpa memikirkan perasaan orang tersebut.

“Bila kemampuan interpersonal dan intrapersonalnya kurang, si individu akan langsung mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa mempertimbangkan apakah orang lain akan sakit hati atau tidak. Ia tidak memikirkan dulu bagaimana bisa mengoreksi tetapi dengan cara yang baik,” tambah Ikhsan.

Mencari Perhatian dan Pembenaran

Saat ini, media sosial sudah memiliki power yang cukup tinggi. Seorang individu pun menjadi lebih berani menyampaikan pemikiran meski sering kali tanpa memikirkan dampak ke depannya.

“Ini ibarat seperti ajang unjuk gigi atau mencari perhatian plus validasi. Jadi, orang tersebut seperti ingin menunjukkan dirinya sendiri kepada publik bahwa pemikirannya benar,” kata Ikhsan.

Tidak Tahu Mana yang Boleh Dikomentari dan yang Tidak

Dinilai sendiri dalam hati dan pikiran boleh, tetapi menurut Ikhsan ada beberapa hal yang memang sebaiknya tidak diutarakan langsung secara blak-blakan.

“Fisik atau penampilan, lalu kondisi saat perempuan hamil dan pasca melahirkan, tidak baik untuk dikomentari,” sarannya. Baik laki-laki maupun perempuan, wajib paham hal ini.

 

Sumber: Klikdokter