BUKAMATA - Sebanya enam anggota tim advance yang mengorganisir kampanye Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Tulsa akhir pekan ini dinyatakan positif Covid-19.
Keenam staf tersebut telah berada di Tulsa sebelum acara yang dihelat pada hari Sabtu waktu setempat. Kegiatan itu digelar ketika Tulsa mengalami lonjakan jumlah infeksi virus Corona.
“Sesuai protokol keselamatan, staf kampanye diuji Covid-19 sebelum acara. Enam anggota tim advance dites positif dari ratusan tes yang dilakukan, dan prosedur karantina segera dilaksanakan," kata Direktur Komunikasi untuk kampanye Trump, Tim Murtaugh.
"Tidak ada staf yang positif Covid atau siapa pun dalam kontak langsung akan berada di kampanye hari ini atau dekat peserta dan pejabat terpilih," tambahnya, Minggu (21/6/2020).
Murtaugh juga mengatakan, semua peserta rapat umum akan dilakukan pemeriksaan suhu sebelum pemeriksaan keamanan.
Keputusan Trump untuk mengadakan rapat umum besar-besaran di dalam arena berkapasitas 19.000 kursi di Tulsa, Oklahoma, telah menuai kritik. Pasalnya acara itu dilakukan pada saat kasus virus Corona melonjak di Oklahoma, dan khususnya di Tulsa.
Jumlah kasus baru di Tulsa mencapai 120 pada hari Rabu, naik dari 35 di bulan sebelumnya. Secara umum, negara bagian Oklahoma juga melihat peningkatan dalam kasus infeksi.
"Izinkan saya menjelaskan: Siapa pun yang mencoba menghadiri pertemuan besar-besaran akan menghadapi peningkatan risiko terinfeksi Covid-19," kata Direktur Eksekutif Departemen Kesehatan Tulsa, Bruce Dart, memperingatkan pada Rabu lalu.
"Saya tahu begitu banyak orang terlalu berlebihan dengan Covid, tetapi Covid belum berakhir. Virus ini bertransmisi dengan sangat efisien di komunitas kami," imbuhnya.
Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, menyebut rapat umum presiden Trump sebagai "perjalanan ego" yang akan membahayakan kesehatan masyarakat dalam sebuah.
"Bagi Presiden ia ingin melakukan perjalanan ego ini ke Tulsa...agar wakil presiden Amerika Serikat pergi mengunjungi tempat-tempat tanpa masker, adalah contoh buruk bagi publik," katanya dalam sebuah wawancara dengan CNN.
Lebih dari 120.000 orang telah meninggal akibat virus Corona di AS, dan lebih dari 2 juta orang terinfeksi. Sementara jumlah kasus yang dikonfirmasi secara nasional tampaknya telah meningkat, wabah di selatan dan barat negara itu telah mengancam akan membatalkan banyak kemajuan yang dicapai melalui penguncian.
Sementara kasus harian baru, untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu, melebihi angka 30.000 pada hari Jumat.
BERITA TERKAIT
-
Ketika Kekuatan Tak Lagi Cukup: Donald Trump Hadapi Realitas Baru Politik Global
-
Mahfuz Sidik: Negara-negara Teluk Perlu Segera Bentuk Aliansi Bersama Hilangkan Hegemoni Amerika
-
Serangan AS–Israel ke Iran Tewaskan Lebih dari 1.300 Warga, Ribuan Bangunan Sipil Rusak
-
Trump Siap Perpanjang Operasi “Epic Fury”, Sinyal Konflik AS-Iran Bisa Meluas
-
Iran Klaim Tewaskan Ratusan Tentara AS-Israel, Washington Bantah: Ketegangan Militer Kian Memanas