Redaksi : Rabu, 03 Juni 2020 11:19
Prajurit China dan India latihan beladiri di perbatasan.

BUKAMATA - China menjadi tertuduh utama penyebaran wabah Covid-19. Negeri tirai bambu itu jadi bulan-bulanan beberapa negara.

Negara Super Power Amerika Serikat, berencana mendepak perusahaan-perusahan China dari negeri Paman Sam itu. Senat Amerika Serikat (AS) meloloskan RUU di bidang pasar modal yakni "Holding Foreign Companies Accountable Act" atau RUU Akuntabilitas Perusahaan Asing yang digulirkan pada Rabu (20/5/2020) waktu AS.

Jika RUU ini disahkan, maka akan menjadi ancaman bagi perusahaan China yang melantai di bursa saham AS.

Dilansir dari CNBC Indonesia, data America Depository Receipt, ada 137 perusahaan China yang tercatat di bursa saham AS. Di antara perusahaan-perusahaan tersebut terdapat nama-nama perusahaan raksasa dunia seperti, Alibaba Group Holding Ltd., Baidu Inc, CNOOC, Hutchinson China Mediatech dan sejumlah nama-nama besar lainnya.

Setelah selama 10 tahun terakhir China leluasa buat segala cara menekan, memaksa, mencuri hak intelektual dan teknologi di seluruh dunia untuk kepentingan ekspansi pasar China. Sekarang, AS melakukan tindakan tegas menyerang balik China.

Trump sudah tandatangan memorandum untuk menyerang China. Segala bujuk rayu China ditepis Trump yang sudah bertekad mengobarkan perang dagang kepada China, yang berdasarkan hasil investigasi AS telah terbukti berbuat curang dan melanggar semua aturan perdagangan internasional.

Perang antara dua raksasa ekonomi dunia ini pasti berdampak luas.

Trump bertekad menekan defisit neraca perdagangan USD 375 miliar dengan China. Meski China sejak Trump berkuasa telah meningkatkan impor dari AS secara drastis, Trump tetap ambil langkah tegas menindak China.

Trump mengaku tahu persis karakter curang China. Trump punya perusahaan di China. "Selama hidup saya berurusan bisnis dengan China, tidak pernah ditemukan 'fairness' dari mereka," ujar Trump.

Trump mengaku, dirinya bukan Clinton atau Obama yang bersedia jadi budak China, menjerumuskan AS dan dunia dalam penguasaan hegemoni ekonomi China yang penuh kecurangan dan kejahatan.

Praktik curang China telah memporakporandakan ekonomi AS, menghancurkan lapangan kerja di AS, merampas kesejahteraan rakyat dan negara AS.

Kelemahan AS mengantar China menjadi negara kaya makmur sejahtera. Sementara China berjanji, akan mengajukan proposal baru guna memuaskan Trump.

Ancaman terjadinya perang dagang AS - China telah melemahkan dolar AS. Pelemahan dolar AS disambut baik oleh Trump, karena akan mendukung upayanya meningkatkan daya saing produk AS.

Sebaliknya, China kalang kabut dan berharap Uni Eropa tidak mengikuti jejak Trump.

Berimbas ke Indonesia

Tindakan tegas Trump melancarkan Perang Dagang dengan China akan diperluas dengan sanksi tindakan tegas pada negara-negara yang menjadi sekutu China, dalam kecurangan dan kejahatan dagang, termasuk Indonesia.

Indonesia jadi salah satu negara yang masuk dalam perhatian khusus AS, karena telah terbukti menjadi kolaborator kejahatan dagang China.

Jepang, Korsel dan Taiwan yang sekutu utama AS, telah melaporkan kecurangan China di Indonesia di mana pemerintah RI mengakomodir kejahatan itu.

Setelah sanksi ekonomi AS dijatuhkan kepada China, Indonesia dan negara-negara kolaborator China juga dipertimbangkan dikenakan sanksi ekonomi/dagang oleh AS.

Ekonomi RI yang sudah terpuruk, terancam terbenam dalam resesi ekonomi.

Arab Saudi, Korsel, Taiwan dan Jepang siap mendukung langkah Trump, mengobarkan perang dagang kepada China.

Empat negara ini telah menjamin Perang Dagang AS kepada China tidak akan berdampak buruk bagi ekonomi AS dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Sementara itu, Indonesia makin terpuruk. Selama 3 bulan terakhir, neraca perdagangan RI mencatat defisit. Impor lebih besar dari ekspor. Rupiah pun melemah.

Devisa negara terkuras

RI menggunakan segala cara untuk meraih komitmen utang dari IMF & Bank Dunia. RI saat ini diambang krisis ekonomi. Mayoritas rakyat tidak tahu fakta ini. Tenggelam dan teralihkan hiruk pikuk isu politik dan korupsi.

Bahaya krisis ekonomi sudah di depan mata. Neraca Perdagangan RI defisit 3 bulan berturut-turut. Negara terancam kolaps di era Jokowi. Eliet partai masih belum sadar juga.

Desember 2017, Asosiasi Pengusaha RI sudah mengungkapkan ekonomi dalam tekanan. Pada saat itu belum ada sinyal AS akan kobarkan perang dagang terbuka pada China.

Kemarin Trump kobarkan Perang Dagang pada China. Bulan depan, pengaruhnya sampai ke Indonesia.

Juru Bicara Gedung Putih Raj Shah menegaskan, besok Trump mengumumkan langkah-langkah AS sebagai tahap pertama dalam Perang Dagang Terbuka AS terhadap China.

Jika Anda memiliki saham perusahaan China atau berbasis di China, segera lepas. Jual secepatnya. Semua index saham China mulai ambrol. Indeks Han Sex , Shanghai, Shengzhen dll berguguran dari kemarin.

Sanksi Dagang AS kepada China ditindaklanjuti dengan pengerahan militer AS di kawasan LCS. Untuk antisipasi kemungkinan China membalas sanksi dagang AS dengan melakukan invasi militer ke Taiwan.

China terus menerus meyakinkan AS, bahwa China akan pertimbangkan semua keberatan AS.

"NO WAY !" tegas Trump.

"Percuma, nanti China akan ingkar lagi. Akan curang lagi," tambah Trump.

Bursa Dunia panik paska deklarasi perang dagang AS China.

Terancam Perang, China Mendadak Evakuasi Semua Warga dari India

Dikutip dari Viva Militer, China mendadak mengevakuasi semua warga negaranya yang ada di India.

Rencana evakuasi itu telah diumumkan Kedutaan Besar China di New Delhi dan pendaftaran evakuasi akan dibuka mulai besok Rabu 27 Mei 2020.

Seperti dilansir Hindustantimes dikutip VIVA Militer, Selasa 26 Mei 2020, Warga yang akan dievakuasi China dari India antara lain pelajar, wisatawan dan pengusaha. Mereka akan dievakuasi dengan penerbangan khusus.

Namun, evakuasi warga China itu dipastikan tak mudah. Sebab saat ini dunia sedang dilanda pandemi Virus Corona atau COVID-19.

"Di bawah pengaturan terpadu Kementerian Luar Negeri dan departemen terkait, kedutaan besar China dan Konsulat di India akan membantu siswa, turis, dan pengusaha sementara di India yang mengalami kesulitan dan sangat membutuhkan untuk kembali ke rumah untuk mengambil penerbangan sementara kembali ke China," tulis China dalam pemberitahuan evakuasi mendadak itu.

Semua warga China yang dievakuasi akan menjalani isolasi selama 14 hari dan mereka diminta untuk tidak merahasiakan riwayat kesehatan selama di India.

"Begitu seorang penumpang yang menyembunyikan penyakitnya dan riwayat kontaknya atau mengetahui bahwa dia telah mengambil antipiretik dan obat-obatan penghambat lainnya selama inspeksi karantina ditemukan, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang membahayakan keselamatan publik," tulis Kedubes China.

Ketegangan antara China dan India di perbatasan Lembah Galwan akhir-akhir ini terus meningkat. Pemerintah India kemarin telah mengerahkan pasukan militernya ke Line of Control (LAC) di Ladakh Timur dekat perbatasan antara India dan China, Lembah Galwan.

Tidak tanggung-tanggung, 12.000 tentara dari berbagai unit di divisi infanteri telah dipindahkan untuk menduduki daerah siaga operasional untuk menghadapi pasukan China di perbatasan Lembah Galwan.

Pengerahan pasukan Batalion Infanteri Angkatan Darat India itu dilakukan setelah terjadinya pertempuran kecil antara militer China dan India di lokasi pembangunan infrastruktur China di perbatasan Lembah Galwan sebulan terakhir ini.

Terlebih lagi, laporan militer India menyatakan, militer China saat ini telah mendirikan puluhan tenda atau barak di sekitar perbatasan untuk menghantui pasukan militer India di sekitar LAC.

Ketegangan antara China dan India di perbatasan Lembah Galwan akhir-akhir ini terus meningkat. Pemerintah India kemarin telah mengerahkan pasukan militernya ke Line of Control (LAC) di Ladakh Timur dekat perbatasan antara India dan China, Lembah Galwan.

Tidak tanggung-tanggung, 12.000 tentara dari berbagai unit di divisi infantri telah dipindahkan untuk menduduki daerah siaga operasional untuk menghadapi pasukan China di perbatasan Lembah Galwan.

Menurut Times of India, pengerahan pasukan Batalion Infantri Angkatan Darat India itu dilakukan setelah terjadinya pertempuran kecil antara militer China dan India, di lokasi pembangunan infrastruktur China di perbatasan Lembah Galwan sebulan terakhir ini.

Terlebih lagi, laporan militer India menyatakan bahwa militer China saat ini telah mendirikan puluhan tenda atau barak di sekitar perbatasan untuk menghantui pasukan militer India di sekitar LAC.

"Bala bantuan telah digeser untuk memastikan bahwa mereka dapat menggantikan di lokasi belakang, pasukan yang teraklimatisasi bergerak maju ke lokasi konfrontasi dengan Tentara Pembebasan Peoples," dalam laporan TOI yang dikutip, Senin (25/5/2020).

Dilansir dari laman Sputnik, Beijing saat ini telah mendirikan sekitar 80 barak sementara dan memarkir kendaraan berat mereka di sekitar perbatasan. Hal itu dilakukan karena Pemerintah Tiongkok menganggap bahwa pertahanan India telah menghalangi patroli normal dan operasi pasukan perbatasan Tiongkok.

Kementerian Luar Negeri India sempat membantah anggapan Tiongkok itu, dia justru menuduh bahwa militer China yang mengganggu perbatasan dan menghalangi patroli militer India di sepanjang Line of Control (LAC) di Lembah Galwan.