BUKAMATA - Sudah ratusan tahun Idul Fitri menjadi tradisi perayaan bagi umat Muslim. Lebaran menjadi tanda sebuah kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan.
Sebelum Islam datang di Arab, masyarakat jahiliah telah memiliki dua hari besar, yakni Nairuz dan Mahrajan. Dalam perayaan itu, mereka menghidangkan makanan, bernyanyi, pesta pora hingga akhirnya mabuk-mabukan.
Diriwayatkan Abu Dawud dan An-nasa’i, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha"
Rasulullah SAW membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Abu Bakar pernah marah kepada dua wanita yang memainkan alat musik rebana sambil nyanyi-nyanyi
"Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar! Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita," kata Nabi.
Dikutip Kumparan dari Ensiklopedia Islam (2008), Hari Raya Idul Fitri dirayakan untuk pertama kali setelah Perang Badar. Dalam perang itu, Umat Islam menang setelah berhadapan dengan tentara dari Kaum Quarisy.
Nabi berpesan, umat Islam menang atas dua hal. Pertama adalah perang melawan kaum kafir. Yang kedua adalah kemenangan umat dalam menaklukkan hawa nafsu selama Ramadhan. Dalam kondisi masih terluka, prajurit merayakan kemenangan tersebut.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada Salat Idul Fitri pertama itu, Rasulullah sampai bersandar pada Bilal untuk menyampaikan khotbahnya. Berdasarkan Hafizh Ibnu Katsir, Salat Idul Fitri itu dilaksanakan di sebuah tanah lapang. Sejak saat itu, tradisi itu terus dilakukan.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Silaturahmi di Hari Raya, Munafri Arifuddin Gelar open house Perdana di Rumah Jabatan
-
Pemerintah Tetapkan Libur Lebaran 2025 Siswa Sekolah 21 Maret - 8 April
-
Bank Indonesia Hadirkan Kendaraan Kas Keliling pada Program SERAMBI 2025 di Kepulauan Selayar
-
BI Siapkan Uang Tunai Rp180 Triliun Lebih untuk Ramadan dan Idul Fitri 2025
-
Manfaat Puasa Syawal Bagi Kesehatan, Bisa Dimulai Besok!