Redaksi : Kamis, 14 Mei 2020 08:47
Anis Matta saat diwawancarai salah satu stasiun TV swasta.

JAKARTA, BUKAMATA - Hampir semua pengamat memprediksi, situasi krisis akibat pandemi Covid-19 ini berat dan memakan waktu yang lama. Bukan hanya dari sisi pandeminya tapi dampak buruknya dalam sektor ekonomi, sosial, politik dan Kemanusiaan secara umum.

Secara global tidak ada satupun negara yang tidak berdampak covid-19, termasuk Indonesia. Namun, Indonesia tidak boleh kehilangan arah. Demikian ditegaskan Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta.

Menurut Anis, Indonesia harus menentukan kepentingan strategis nasional yang harus dipertahankan, terutama menyangkut eksistensi dan kemapuan bangsa untuk bertahan dan terus bertumbuh.

"Yaitu, value atau nilai-nilai dasar kita sebagai bangsa yang tidak boleh kita korbankan. Dan kedua adalah, kepentingan material yang bersifat strategis,” ungkap Anis.

Dalam acara Zoominari bertajuk "Inovasi di Tengah Krisis Dalam Alquran" yang dilaksanakan oleh DPW Gelora Indonesia Jawa Timur, Rabu (13/5/2020), Anis mengatakan, saat ini bukan hanya soal krisis pandeminya, tapi akumulasi dampaknya akan kita hadapi setelahnya, yaitu krisis ekonomi yang sudah terasa, yang berpotensi memunculkan krisisi sosial dan biasanya diikuti krisis politik, kemanusiaan lalu diakhiri dengan lahirnya tatanan dunia baru.

Hal senada juga diramalkan sebelumnya oleh Prof Didin S. Damanhuri, dalam acara zoominari serupa beberapa waktu lalu mengemukakan, dari sekian referensi ada beberapa pandangan tentang Covid-19. Yaitu, tidak pesimis, berat, dan sangat berat. Tetapi setelah diumumkan target pertumbuhan ekonomi negara-negara di Dunia, Indonesia sekitar 4 persen, China positif. Tapi kenyataannya, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,97 persen, sementara China minus 5,8 persen dengan pengangguran sudah lebih 70 juta orang bahkan berpotensi 205 juta pekerjanya terancam pengangguran friksional. Begitupun Uni Eropa kata Prof Didin juga minus.

"Jadi saya kira dengan rilis seperti itu, keadaan yang bilang tidak terlalu pesimis itu hilang. Keadaan yang dihadapi sekarang ini adalah berat dan sangat berat," tuturnya.

Fakta-fakta ini membuat semua negara di dunia, berjibaku mencari jalan keluar dari krisis ini. Salah satu contoh India baru saja menggelontorkan paket stimulus ekonomi Rp4000 triliun untuk melindungi dan membangunkan ekonomi sektor real termasuk UMKM-nya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Charity dan bantuan BLT menjadi pendekatan yang rutin dalam situasi krisis, sebagai langkah penyelamatan bagi warga yang terkena dampak. Tetapi bisa bertahan sampai berapa lama dalam situasi semua sektor terpukul. Bagi Anis Matta, dalam situasi krisis seperti ini yang paling pertama harus hadir pada dasarnya bukanlah sistem pertama kali, tetapi kebutuhan Leadership atau Kepemimpinan.

“Pendekatan charity memang berguna jangka pendek, tapi krisis yang tidak ditemukan jalan keluarnya, pendekatan awalnya adalah konsolidasi dan ini hanya bisa terjadi kalau ada leadership,” tutur Anis Matta.

Leadership atau kepemimpinan itu pun paling tidak membutuhkan syarat-sa

yaratnya. “Dua syarat utama kepemimpinan dalam krisis ini, yaitu ilmu pengetahuan dan sumber daya karena krisis ini membuat kita menjadi terbatas secara sumber daya, waktu, dan minimnya pilihan solusi,” lanjutnya.

Ujung dari krisis ini lanjut dia, jika mengacu pada solusi pandeminya berupa vaksin maka prediksi penemuanya masih membutuhkan waktu yang cukup lama bisa sampai akhir tahun depan 2021.

Di luar dari itu krisis ini belum ada yang mengetahui ujungnya sampai di mana dan kapan berakhirnya. Bahkan para ahli pandemik mewanti-wanti adanya pandemi gelombang kedua. Lalu bagaimana membaca situasi yang tidak diketahui ujungnya ini?

"Kita mesti membaca fakta-fakta ini apa adanya secara scientific bukan untuk membuat jadi pesimis, tapi membantu kita menentukan peta jalan melewatinya dan kepentingan strategis kita,” jelas Anis Matta.

Dalam konteks Indonesia lanjut dia, membaca fakta-fakta ini menjadi strategis untuk menentukan peta jalan menuju ujung dari krisis ini yaitu lahirnya tatanan dunia baru sebagaimana yang dijelaskan Anis Matta sebelumnya.

"Indonesia tidak boleh kehilangan arah, Indonesia harus menentukan kepentingan strategis nasional yang harus dipertahankan terutama menyangkut eksistensi dan kemapuan bangsa untuk bertahan dan terus bertumbuh yaitu value atau nilai-nilai dasar kita sebagai bangsa yang tidak boleh kita korbankan dan kedua adalah kepentingan material yg bersifat strategis,” beber Anis.

Langka ini kata Anis, menjadi penting untuk masuk ke tahap selanjutnya. Anis Matta menyebutnya sebagai Strategic Innovation. Pandemi ini telah berhasil mengubah banyak kehidupan manusia secara mendasar menjadi kehidupan new normal.

Bagi Anis Matta, situasi ini sangat mungkin membuat Indonesia bisa bangkit jika mampu hadir dalam empat situasi tatanan kehidupan baru pasca pandemik.

Pandemic ini telah berhasil meyakinkan public untuk segera shifting ke teknologi baru, menemukan model ekonomi baru, pembentukan ulang aliansi-aliansi strategic global sebagai dampak dari konflik geopolitik, lahirnya aturan main tatanan dunia baru," tutup Anis kepada ribuan peserta diskusi yang digelar lewat Zoom itu.