Redaksi : Rabu, 06 Mei 2020 10:43

BUKAMATA - Narasi Institute, kembali menghadirkan diskusi online bertema "Landscape Hubungan Internasional di Era Covid-19 dan Pasca Covid". Dipandu founder Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, menghadirkan pakar Hubungan Internasional dari Universitas Bina Nusantara, Prof Tirta Nugraha Mursitama.

Covid-19 ini luar biasa dampaknya. Perubahan drastis terjadi. Termasuk dalam kaitan dengan hubungan internasional.

Menurut Prof Tirta, karakteristik dunia saat ini dilihat dari enam hal. Ada proliferasi aktor, kapasitas negara, peran masyarakat, sistem politik, kerjasama versus konflik, dan membuka diri versus isolasi.

Proliferasi aktor kata Prof Tirta, hubungan internasional, tidak lagi semata-mata negara. Melainkan di dalamnya ada banyak aktor. Ada individu juga organisasi-organisasi internasional juga aktif di sana. Meski masih dipertanyakan bagaimana peran organisasi-organisasi multilateral seperti WHO misalnya.

Aktor negara, yang paling dipertanyakan paling kuat adalah negara. Apakah negara itu berperan dalam menghambat pandemi?

"Seluruh dunia mengalami ini. Kita lihat, negara tidak efektif menghandel ini, karena sangat rumit dan sangat multidimensional. Tidak hanya terkait global heat," ujar Prof Tirta.

Selain negara tambah Prof Tirta, aktor individu juga banyak. Mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan sebagai warga negara, atau bahkan sebagai warga dunia.

"Mereka mendorong pemerintah di negara yang dia diami, atau negara di dunia, meminta misalnya China dan Amerika Serikat untuk bekerjasama," ungkap Prof Tirta.

Amerika kata Prof Tirta, sebagai negara super power, masih sangat diharapan leadershipnya. Namun kondisi Amerika yang cenderung isolasionis, dengan kepemimpinan Donald Trump yang seperti itu, sehingga dunia tidak bisa mengharapkan apa-apa.

Bahkan Amerika lanjut Prof Tirta, sudah sering menarik diri dari lembaga multilateral, sehingga dalam kondisi seperti ini, dunia melihat tak ada lagi yang bisa diharapkan dari Amerika.

"Kita melihat peran masyarakat. Banyak contoh-contoh lucu, meskipun itu guyon. Seperti di Amerika, ada lelucon 'jangan menyuntikkan pemutih dalam tubuh', itu seperti lelucon tapi kita lihat dalam negara yang modern dan terdidik, banyak juga masyarakat yang melakukan itu," ungkapnya.

Dari contoh itu kata Prof Tirta, bisa dibayangkan bagaimana repotnya negara melakukan pengendalian terkait pandemi ini. Untuk mengontrol dampak, bagaimana kesulitan negara melakukan tindakan yang sifatnya gradual.

"Kita kembali ke China dan Amerika, ini akan membawa kita ke pertanyaan, ini kerjasama atau konflik? Berdasar dalam kajian hubungan internasional, kita bisa melihat apakah negara itu mau kerjasama ataukah mau berantem sendiri. Ternyata dalam pandemik ini, negara-negara di dunia ini cenderung menarik diri. Modelnya yang penting bagaimana kepentingan warga negaranya aman, tidak banyak yang kena, banyak yang sembuh. Artinya, faktor domestik lebih diutamakan," beber Prof Tirta.

Prof Tirta menambahkan, ini banyak yang terpulang ke sosial budaya dari masyarakat negara itu. Persoalan itu lanjut Prof Tirta, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di India. Bagaimana warganya juga banyak yang mudik dan sebagainya. Melanggar ketetapan dari pemerintah untuk tetap tinggal di rumah. "Ini bagian dari global leadership," tambahnya.

Bagaimana dunia masa depan? Prof Tirta mengatakan, memang kita bukan cenayang, tapi bagaimana kita memotret masa depan dengan melihat masa lalu.

Dunia kata dia, menuju pada tata kelola yang baru, good governance yang baru. Organisasi multilateral itu lanjut dia, mulai dipertanyakan. Bukan berarti bahwa organisasi-organisasi internasional dipertanyakan, mulai dibatasi.

Para ahli hubungan internasional kata Prof Tirta menyatakan, bahwa baru kali ini negara digambarkan menyandingkan isu lama dengan isu-isu yang baru. Global heat misalnya disandingkan dengan isu baru seperti pandemik virus. Isu baru tidak menafikan isu yang lama.

"Biasanya isu baru meninggalkan isu lama, tapi sekarang ini isu lama dan isu baru bisa beriringan," terangnya.

Menurut Prof Tirta, kita tidak bisa menutup diri. Perlu kerjasama. Meski kita harus mendefinisikan ulang kerjasama apa yang bisa dilakukan oleh aktor-aktor hubungan internasional. Tidak hanya negara, tapi individu, kelompok masyarakat, pebisnis dan lain-lain sebagainya. Jadi ada interpartnership.

Kesannya kata dia, lebih kepada pandangan kaum liberal yang sepakat menyatakan, organisasi internasional sebagai kendaraan untuk memperjuangkan kepentingan internasional, sehingga organisasi internasional dipandang masih solusi yang tepat.

Isu-isu kemanusiaan yang baru soal solidaritas, humanity, empati, lanjut Prof Tirta, akan mewarnai hubungan internasional. "Jadi tidak lagi siapa menguasai apa, bukan juga lagi soal penguasaan wilayah secara fisik. Tetapi muncul isu-isu baru seperti bagaimana menangani beberapa hal seperti ini. Jika terjadi lagi pandemi, ya jangan sampai ya. Misalnya siklus 20 tahunan atau 100 tahunan, dunia sudah punya protokol yang bisa dilakukan bersama, yang disepakati bersama oleh semua negara," ungkapnya.

Tidak seperti sekarang. Menurut Prof Tirta, saat ini ada negara-negara yang lebih advance, seperti negara yang pernah terkena SARS misalnya Hong Kong, Taiwan dan sebagainya. Ada negara yang memandang pandemi Covid-19 ini sepele, seperti Italia, Spanyol termasuk episentrum perubahan yang sangat besar.

"Termasuk diri-diri kita. Di Indonesia ini adalah bangsa yang ikhlas. Hidup mati, Allah yang atur. Jadi stabil. Jadi ada global leadership dan new global leadership," beber Prof Tirta.

Bagaimanapun juga kata Prof Tirta, dalam situasi seperti ini, leadership adalah sesuatu yang penting. Tinggal bagaimana mencari leadership itu, ketika Amerika yang diharapkan, justru melarikan diri. "Tidak apa-apa, ada leader lain yang muncul. Sepertinya dalam hal ini, China muncul sebagai leader baru," ujar Prof Tirta.

Ketika covid-19 ini muncul, Prof Tirta memandang seolah-olah muncul saling menyalahkan, senjata biologi.

"Saya kaget juga ketika ada peraih nobel dari Jepang mengatakan, ini sebenarnya ada persoalan-persoalan, yang memang dibuat oleh China. Jadi dunia sudah ada dalam sebuah perang yang baru, bukan lagi perang dalam arti fisik, menggunakan teknologi, tapi menggunakan biologi sebagai senjata. Tapi ini kesannya seperti konspiratif. Sementara kita mungkin menghindari ke arah sana. Biasanya kan Jepang itu sangat jujur dan hati-hati, peraih nobel, tapi dia bilang kalau saya salah silakan copot nobel saya. Kita tidak melihat apakah itu bagian dari konspirasi karena kita lihat Jepang itu sangat dekat dengan Amerika Serikat. Dan Jepang sendiri masih merasa nyaman dengan China. China muncul sebagai negara kapitalis yang terkendali," terangnya.

Ke depan kata dia, ada negara yang karena menganggap mampu memenuhi kebutuhan sendiri, sehingga tidak membutuhkan bantuan negara lain.

Tetapi, tata global ke depan kata Prof Tirta, tetap akan ada kerjasama, khususnya dalam pengelolaan masalah seperti ini.

"Kalau ini tidak ditangani bersama, tidak mungkin warga negara dalam suatu negara, yang satunya pakai lockdown, yang satunya bebas, kita tidak pernah tahu karena orang itu sudah carrier atau bukan. Menurut saya ini sangat sulit tanpa ada kerjasama," ungkapnya lagi.

Di sini lanjut dia, kita melihat peran organisasi internasional, organisasi multilateral seperti WHO, masih sangat penting.

"Kalau kita buka situs-situs WHO, ILO, IMF semua mencantumkan bagaimana peran organisasi itu dalam menangani Covid-19. Bank Dunia misalnya, apa saja respons negara-negara itu untuk kebijakan ekonominya, misalnya ada stimulus dan sebagainya. Bagaimana negara itu merespons chaos tadi. Saya lebih cenderung mengatakan, kondisi anarki tapi tetap ada kunjungan untuk kerjasama," ungkapnya.

Apakah kita menuju perang dunia III? Menurut Prof Tirta, dirinya tidak berpikir sejauh itu. Perang dunia III kata dia, akan terjadi kalau pemimpin negara-negara itu sudah gila.

"Donald Trump (Amerika Serikat) dan Vladimir Putin (Rusia) sama-sama memegang kunci senjata nuklir. Jadi kalau dua orang gila itu membuka kuncinya dan memencet tombol nuklirnya, dan ingat begitu ada satu negara yang meluncurkan nuklirnya, negara di seberang sana akan juga mengaktifkan nuklirnya. Yang terjadi adalah semua sama-sama hancur. Apakah akan terjadi seperti itu, saya melihatnya masih jauh. Kita masih berpikir rasional. Anomali seperti itu kita tidak pernah tahu," terangnya.

Lebih lanjut Prof Tirta kembali mengulas aktor internasional, selain negara ada juga individu atau pebisnis. Menurutnya, banyak pebisnis bermain, karena didorong oleh kepentingan ekonomi, karena ujungnya adalah kesejahteraan. Itu akan mengemuka.

"Jadi bukan hanya lembaga internasional seperti PBB, tapi ada world economic forum, CEO-CEO kelas dunia hadir untuk ikut memecahkan masalah," jelasnya.

Kemarin kata Prof Tirta, kemunculan virusnya spekulatif. "Misalnya oleh Bill Gates dan sebagainya, saya menduga orang-orang seperti itu karena tidak memiliki resources sehingga memberikan dana kepada lab-lab tertentu sehingga mungkin mendapatkan hasil lebih dulu. Tahu lebih dulu. Sekarang ini kan economic knowledge. Siapa yang menguasai knowledge, maka dia akan menguasai dunia," tegasnya.

Faktor pemilu di Amerika Serikat juga menentukan. Biasanya di tahun kedua kata Prof Tirta, orang tidak punya lagi pertaruhan untuk melakukan pertarungan. Biasanya kata Prof Tirta, orang akan melakukan kegilaan. "Kalau pun misalnya Republikan menang lagi, tapi saya menduga, Demokrat juga akan lebih kuat men-challenge," jelasnya.

Dari sisi ekonomi, Amerika kata Prof Tirta membaik. Popularitas Trump juga. Bagaimana membakar sentimen dengan negara lain, dan terlihat bahwa Amerika mendapatkan kerugian lebih banyak dibandingkan China.