MAKASSAR - Tidak terasa puasa sudah memasuki hari kesepuluh hari ini, Minggu (3/4/2020). Banyak yang sedih bulan Ramadhan kali ini diwarnai dengan hadirnya viru corona.
Kesedihan itu juga dirasakan Ariyadi Arnas. Pria yang berprofesi sebagai Microstockist dan Logo Designer ini mengaku sedih melihat kondisi Indonesia saat ditimpa Covid-19 saat puasa.
"Sedihnya karena Indonesia melakukan PSBB yang kesannya setengah hati. Beberapa teman medis saya terlihat kewalahan menangani korban Covid-19. Belum lagi dengan menurunnya kegiatan ekonomi dari setiap strata pekerjaan," kata Ariyadi dalam Edisi Ramadhan Bukamatanews, Minggu (3/5/2020).
Bahkan kata Ariyadi, beberapa rekannya terpaksa membanting stir untuk mencari sesuap nasi agar tetap bertahan hidup. Seperti salah satu temannya yang dulunya punya usaha travel, kini mencoba peruntungan dalam pengadaan APD.
"Ada juga seorang jurnalis yang berusaha tetap bertahan dengan jualan kue dan nasi kotak. Ada juga teman di Sulawesi Barat yang harus menutup sementara usaha fotokopinya dikarenakan sepi pelanggan dari sekolah-sekolah disekitar tokonya," beberya.
Namun satu yang disyukuri Ariyadi, masih bisa survive dengan kreatifitas yang dimiliki di jalur desain grafis.
"Kebetulan karena bisa melakukan Work from Home. Tetap berusaha bertahan dan juga bisa melebarkan jaringan di dalam maupun luar negeri," katanya.
Kata dia, covid-19 sebenarnya membuka mata kita, karena ternyata di luar negeri pun, tidak sekuat yang disangka. Sebab, selama ini imej Barat selalu kuat menghadapi kesulitan. Namun rupanya, tidak seindah film-film Hollywood yang mereka buat.
Untuk itu, Ariyadi berharap Indonesia menjadikan momen ini untuk berubah. Terutama dari sektor ekspor.
"Maksudnya, bisa mengambil kesempatan membuat industri-industri untuk keperluan luar negeri alias ekspor. Mumpung di negara-negara seperti Eropa, Asia, Amerika, Afrika, bersama-sama melakukan 'Big Reset' di segala bidang. Karena kita tahu sendiri bahwa Indonesia memiliki banyak utang negara. Indonesia harus bisa menjadi pemain utama di kancah Internasional. Minimal 5 besar di dunia," bebernya.
"Saya sendiri tidak terlalu setuju dengan utang luar negeri. Saya pikir Indonesia butuh memetakan potensi daerah kembali. Sehingga memacu rakyat Indonesia untuk bisa berperan aktif dan maju bersaing, serta meningkatkan gelombang kreativitas di masa sulit," sambungnya.
Terlepas dari itu, Ariyadi mengaku saat ini tetap fokus bekerja meski hanya dari rumah di saat puasa. Sembari menjaga silatuhrahmi dengan teman-teman.
"Memanfaatkan waktu luang, biasanya chatingan bareng teman-teman alumni sekolah. Say Hello dan tanya kabar mereka masing-masing. Ada yang bekerja sebagai PNS/ANS, Bankir, Pengusaha, dll. Rata-rata mereka mengeluhkan kenaikan listrik dan kurangnya pemasukan usaha. Sedih juga sih denger cerita mereka" katanya.
Selain itu, saat puasa seperti sekarang ini, Ariyadi tetap memperbanyak ibadah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Termasuk memanjakan diri dengan makan buka puasa.
"Momen Ramadan adalah momen yang paling ditunggu untuk memanjakan diri membeli panganan, kue, atau kuliner kesukaan yang jarang ada di bulan lainnya seperti kurma, barongko dingin, es buah, kolak pisang, dll," pungkasnya.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Telkomsel Regional Sulawesi Catat Kenaikan Trafik Broadband 18,2 Persen Selama Ramadan - Idulfitri 1446 H
-
Wali Kota Makassar Tarawih Bersama Warga, Ingatkan Keutamaan 10 Malam Terakhir Ramadan
-
Ini Cara Tingkatkan Kualitas Ibadah Saat Ramadan, Salah Satunya Jaga Salat Wajib
-
Bank Indonesia Hadirkan Kendaraan Kas Keliling pada Program SERAMBI 2025 di Kepulauan Selayar
-
Momen Mengharukan di Liga Europa: Laga Real Sociedad vs Manchester United Dihentikan untuk Berbuka Puasa