BUKAMATA - Seri diskusi online Narasi Istitute kembali digelar. Founder Narasi Institute Achmad Nur Hidayat menghadirkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila, Prof Bustanul Arifin, untuk mengupas ketahanan pangan Indonesia menghadapi Covid-19.
Pada kesempatan itu, Prof Bustanul mengatakan, semua orang di dunia ini, tidak ada yang optimis. Kenapa? Karena kita belum tahu kapan ini berakhir. "Kebelumtahuan itu yang ke mana-mana," jelas Prof Bustanul.
Menurut Bustanul, ada dua hal permasalahan terkait ketahanan pangan. Pertama, soal visi Indonesia, apakah itu akan terpenuhi? Yang kedua, ramalan dunia.
"Kalau Pak Jokowi mengutip WHO, saya juga mengutip WHO, tapi ada lembaga lain namanya IFFRI (International food for research Institut) yakni lembaga riset kebijakan pangan internasional.
Penelitinya kata Bustanul, salah satunya sudah menyimpulkan, kalau pandemi Covid-19 ini, akan menaikkan angka kemiskinan dan kerawanan pangan.
Bustanul menampilkan grafik yang dirumuskan di visi Indonesia 2045. Di situ kata dia, dituliskan lima tahun sekarang ini antara 2020-2024 (tahun RPJM), itu adalah konteks untuk mendidik sumber daya manusia. Jika tidak melakukan hal itu sekarang, maka kita akan dijebak dalam middle income trap atau tua sebelum kaya. Kita kata Bustanul, akan terjebak di situ.
"Kita sekarang berada di posisi pembangunan SDM. Itu terganggu oleh kondisi seperti sekarang ini. Jangan-jangan middle Income trap pun tak akan tercapai. Akan terus di situ. Kita keburu tua dan tidak pernah kaya-kaya," jelasnya.
Bustanul melanjutkan, kita bisa lihat, apakah targe-target yang kita inginkan akan tercapai atau tidak. Dia mengatakan mungkin tidak. "Kenapa? Saya kutipkan yang saya sebutkan tadi, dari Desit Labour Institut dan Will Martin and Frost. Ramalannya baru sekali. 16 April 2020. Bahwa, ekonomi global akan minus 5 persen, negara maju akan minus 6,2 persen, negara berkembang minus 3,6 persen, Afrika sampai minus 9 persen, kemudian South Asia (India, Pakistan) 5 persen, dan kita South East Asia minus 7 persen. Ini model. Mudah-mudahan salah modelnya," ungkapnya.
Tapi dalam konteks agrifood kata dia, semua negatif kecuali Afrika yang positif. Mengapa? karena perdagangan pangan juga terganggu. "Mungkin kita akan sampaikan ada yang optimis impor kita kan tidak hanya tergantung pada pangan. Iya. Tapi kan banyak yang tergantung juga," jelasnya.
Dan kalau perdagangannya bermasalah, menurut Bustanul, sulit untuk optimis. "Tetapi kita akan cari celah-celah untuk optimis itu," katanya.
Ketahanan pangan itu kata dia, juga dimaksudkan untuk peningkatan kesejahteraan petani. Ada beberapa strategi. Satu SDM, baru pertanian dan maritim. Pengembangan pusat pendidikan dan teknologi, integrasi hilir hulu, dan penguatan kelembagaan dan usaha petani, lalu pengembangan infrastruktur.
Target pemerintah lanjut Bustanul, produksivitas petani harus ditingkatkan 4 kali lipat dibanding base line 2015 kemarin. "Well, itu semua sulit. Mengapa sulit? Ada peta dipublis tahun lalu untuk 2018, kalau untuk 2019 akan dipublis 2020. Lihat yang hijau ketahanan pangan kuat, merah rentan. (Kawasan indonesia bagian barat tampak hijau, sedang KTI khususnya Papua, berwarna merah). Ini sebelum covid. Per kabupaten dengan warna yang berbeda, itu menunjukkan detail kerawanan pangan yang berbeda. Diukur dari 14 indikator," terangnya.
Satu lagi konsepnya, mungkin di luar yang diharapkan ekspektasi banyak orang. Menurutnya, berbicara ketahanan berbicara soal kualitas konsumsi. Dia bilang, 1000 HPK (Hari Pertama kehidupan) konsepsion dari tahun pertama dari anak itu terjadi pertemuan zigot. Di situlah penentuan kualitas ketahanan pangan yang sebenarnya. Dan kalau gagal pembentukan otak pada dua tahun pertama itu, ke depan dan seterusnya, setelah dewasa ketahanan pangannya akan bermasalah.
"Apanya bermasalah? karena kualitas pangannya asupan gizinya tidak cukup, tidak baik. Mungkin Anda pernah mendengar stunting, anak pendek, anak lembek, itu karena tidak tahan pangan," tuturnya.
"Jadi konsep yang ingin saya sampaikan, ketahanan pangan bukan hanya terkait supply and demand maka harga akan naik, tapi berhubungan dengan kualitas pangan, gizi masuk, dan apakah itu terganggu, pasti terganggu. Seberapa terganggunya, mari kita lihat," tambahnya.
Bustanul mengutipkan beberapa data. Menurutnya, itu data baru. Ada yang turun memang, yang lain sudah tinggi. Gula sebut dia masih naik, bawang merah dan beras itu yang naik. Gula naik 22 persen. Bawang merah naik 6,5 persen.
"Memang ada masalah. Beras seperti yang disampaikan Pak Jokowi tadi, naik tipis. Harga gabah tadi kata Pak Jokowi, turun 5 persen. Terus terang tadi malam saya cek ke beberapa pedagang, saya telepon petani, mantan kepala dinas, mereka bilang gak ada pak harga turun sampai sebesar itu katanya kan. Harga gabah jauh di atas harga yang ditetapkan pemerintah. Rata-rata Rp4.900, Rp5000. Bahkan paling rendah, Rp4.600, Rp4.700. Mungkin ada informasi yang lain," terang Bustanul.
Menurut Bustanul, kira-kira konteksnya saat ini adalah, kalau pangan yang berasal dari impor itu bermasalah.
"Kita lihat data dua tahun terakhir data produksi dan konsumsi beras. Dalam waktu dekat, beras aman atau tidak. Yang merah itu (pada tabel yang dia tunjukkan di monitor) data impor. 2018 kita impor 2 1/4 juta ton. 2019 karena pemilu, pemerintah tidak impor, impor cuma 440 ribu ton. Tapi begitu pemilu selesai, menteri dilantik, impor melonjak lagi dari Oktober sampai sekarang. Konteks ini ingin saya sampaikan, 2020 dengan pola yang tidak jauh berbeda, mungkin geser sebulan karena sebulan kemarin dak panen karena kemarau. Tapi polanya tidak akan berubah," terangnya.
Kapan beras akan bermasalah? Bustanul menduga beras akan bermasalah pada akhir tahun. Kalau sampai Juni-Juli, kemungkinan masih akan aman.
"Ada tambahan kalau ramalan dilakukan hanya data sampai Maret. Kalau polanya tidak berbeda dengan tahun lalu, kemungkinan kemarau ini kita masih aman," jelasnya.
"Tapi kalau kembali ke ini setelah Oktober, November kita bermasalah. Bahasa lain, kan yang ditugasi impor kan Bulog. Impor aja diam-diam. Supaya ada cadangan. Cadangannya itu yang harus terisi," bebernya.
Hari ini kata dia permintaan naik. Mengapa naik? Permintaan dari instansi pemerintah, untuk relawan. Itu yang naik.
"Kalau sekarang barang sampai habis dan menjadi sentimen negatif, justru itu yang berbahaya menurut saya," ungkapnya.
Bahasa lainnya kata Bustanul, stok di gudang harus ada. Kalau tidak ada, itu akan sulit.
Hari ini, sejak akhir Maret kata Bustanul, kita punya kebijakan baru, Permendag Nomor 24 Tahun 2020. Peraturan itu mengatur harga pembelian baru. Rp4.200 untuk harga gabah panen, Rp4.050 untuk gabah kering giling. Beras Rp8.300.
"Apakah di lapangan ada harga di bawah itu, tidak ada. Saya pastikan," tambahnya.
Dia lantas menampilkan grafik empat kebutuhan pokok. Ada daging sapi, beras, minyak. Menurutnya, ketiganya stabil hingga hari ini. Kecuali gula, meningkat. Kenapa meningkat? Menurut Bustanul, itu karena memang produksi dalam negeri yang tidak cukup.
"Kita mmenggantungkan diri pada impor. Ijin impor bermasalah. Macam-macam masalahnya. Kemarin ada solusi intermediate ok. Walaupun gula itu untuk gula rafinasi, okelah pakai aja untuk kebutuhan konsumsi. Tapi itu belum klir. Belum tersebar untuk seluruh Indonesia," tegasnya.
Sehingga harga sekarang kata dia, masih Rp18.250. "Itu masih tinggi. Harga acuan kan cuma Rp12.500. Sehingga di beberapa tempat, gula itu menjadi langka," terangnya.
Apakah barang lain, holtikultura juga bermasalah? "Tidak. Kecuali bawang merah yang saya sampaikan di awal tadi. Yang lain sudah reda. Semua menunjukkan sudah turun ke bawah itu. Bawang putih yang menarik, sudah turun sedikit. Karena kita impor. Ada 50 persen kita impor," jelasnya.
"Kita sekarang rangkum semuanya. Bagi petani, apa yang perlu disampaikan atau dibantu, petani benar-benar minta jaminan bahwa mereka benar-benar masih boleh ke sawah. Masih boleh panen. Diberikan insentif. Itu satu," ungkapnya.
Yang kedua lanjut Bustanul, ada dana desa. Dana itu boleh dipakai untuk membantu dampak covid-19. Petani itu perlu dibantu dengan menggunakan dana itu.
Stok bulog juga tidak boleh kurang. Yang terakhir, faktor lebaran itu berpengaruh.
"Kita belum tahu kapan puncak krisis pangan itu. Apakah berdasarkan beras saja Oktober-November. Apakah produksi skearang, atau Mei nanti panen Juni hasilnya itu kalau sesuai rencana. Kalau tidak sesuai rencana, mungkin lebih cepat," ujarnya.
"Apakah tidak ada (produksi) sama sekali. Kalau pun tidak ada sama sekali, enteng saja, pangan pokok tidak terlalu naik harganya, kemiskinan tidak bertambah, tapi kok agaknya sangat sulit. Pasti terdampak. Kalaupun tidak langsung, mungkin bukan hanya peningkatan harga saja. Akses ini menjadi masalah. Kalau harga tetap, dan sebagian besar orang penghasilannya menurun karena ekonomi sedang kontraksi, itu juga bermasalah. Karena aksesibilitas atau dalam konteks ini, daya beli riil juga bermasalah. Kalau pun akan terjadi krisis pangan karena covid ini," terangnya.
Menurut Bustanul, itu berbeda jika tiba-tiba harga pangan melonjak sekali. Tapi menurut dia, yang terjadi saat ini bukan kelangkaan. Tapi lebih kepada penurunan daya beli, lalu ada inflasi, kemudian ada utang. Itu kata dia, akan agak lebih menyakitkan. Karena walau bagaimanapun, kebutuhan pangan kita tidak akan berubah.
"Kalau ada yang menyarankan ayo kita mengurangi konsumsi, sepertinya kok agak bagaimana. Berhemat, tetap kebutuhan pokok akan meningkat, karena jumlah penduduk kita meningkat. Menurut saya itu titik kritis yang perlu kita perhatikan secara umum. Kalau khusus, titik kritis komoditas yang pasti penanganannya akan berbeda juga," paparnya.
Penanganan untuk beras kata dia, berbeda untuk gula. Mungkin ayam hari ini agak kurang, tapi pasti siklusnya akan naik, seperti yang terlihat dari berita, bahwa ayam tidak ada yang ambil, pedagang tidak ada yang beli.
"Jangan sampai seperti minyak. Karena krisisnya, pedagang itu membayar kepada siapa yang beli itu kan sudah dak benar," bebernya.
"Jadi yang seperti itu, mohon ini jadi pemikiran bagi kita semua. Akses pangan terpengaruh iya, kita perlu jaga produksi, perlindungan kepada petani, distribusi, kemudian ketersediaan keterjangkauan. Wallahu 'alam mana yang akan terjadi lebih dahulu, yang penting kita harus siap-siap," pungkasnya.
BERITA TERKAIT
-
Tanda Resesi Global Muncul, Harga Minyak Turun, Suku Bunga Meningkat
-
Dunia Khawatir Cara AS Tangani Runtuhnya Silicon Valley Bank
-
Partai Gelora Soroti Pemberian Izin Orang Asing Tinggal 10 Tahun di IKN
-
MA Diharapkan Buat Pernyataan agar KPU Bisa Abaikan Putusan Penundaan Pemilu 2024
-
Liberalisasi Ekonomi Rentan Diterpa Krisis, Pemerintah Diminta Perkuat Kemandirian Bangsa