Redaksi : Senin, 20 April 2020 08:22

BUKAMATA - Dipandu Achmad Nur Hidayat, founder Narasi Institute, Bambang Seuherman, salah satu Direktur di Dompet Dhuafa, memaparkan banyak hal tentang apa yang telah dilakukan masyarakat sipil untuk membantu pemerintah dalam menangani Covid-19 ini.

Menurut Bambang, dari perspektif lembaga, ada pola yang ditawarkan. Ada tiga hal yang diperlukan untuk disebarluaskan ke masyarakat. Yang pertama kata dia, informasi yang benar atau valid. Yang kedua edukasi, terkait terbentuknya prilaku.

"Pertama kali diusulkannya lock down, masyarakat tidak terlalu antusias, karena tidak tahu objek yang dihadapi. WFH juga, masih banyak warga yang berkeliaran," jelasnya.

Yang ketiga lanjut Bambang, adalah aksi. Ajakan untuk sama-sama terlibat, karena masyarakat sipil adalah komplementer negara.

"Kalau mengharapkan masyarakat sebagai ujung tombak, pasti akan sangat lemah resources yang tersedia. Tapi masyarakat punya ruang untuk menciptakan model agar bisa mengelola isu yang ada," tambahnya.

Dalam perspektif lembaga kata dia, Covid-19 dibagi dalam tiga fase. Pertama fase inkubasi. Apa yang dikerjakan masyarakat sipil pada fase inkubasi? "Jadi kita punya kepentingan yang sangat kuat untuk melandaikan atau memutus infeksi Covid-19. Jadi masyarakat harus tahu bagaimana cara berprilaku dan masyarakat harus tahu bagaimana membangun konsep sterilisasi dalam dirinya," terangnya.

"Ini para pejuang di grup-grup aktivis mengambil akses dalam mengedukasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Melalui WA misalnya, atau sosial media yang kita lihat," tambahnya.

Bambang mengambil modelling agar masyarakat paham. Yang pertama kata dia, membangun kampanye kesadaran tentang Covid-19 ini. Ini kata dia, sudah berjalan terus dan sampai hari ini secara massif. "Yang pertama itu reinfeksi. Kita mempelajari itu reinfeksi, efeknya seberapa dahsyat. Apakah dia akan menciptakan horor baru. Kedua kita remodelling di lapangan itu seperti apa modelnya. Dulu kantor-kantor itu disemprot, tempat-tempat masyarakat berkumpul itu disemprot. Supaya masyarakat menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat," ungkapnya.

Bambang melanjutkan, "setelah WFH berjalan, kita membatasi dengan publik, kita membuat antiseptic body chamber. Ini juga sebennarnya produk riset apa yang dilakukan negara-negara di dunia ini. Ini fase setelah WFH. Tapi masih ada pekerja informal yang beredar di lapangan. Itu sangat sulit kita atasi atau kita larang. Lalu muncullah gagasan untuk menciptakan sterilisasi. Ini memungkinkan untuk sterilisasi yang baik. Kalau ojol hendak mengirim makanan, dan memastikan diri steril, itu tidak mengkhawatirkan bagi rumah-rumah yang mereka datangi," paparnya.

Selanjutnya kata Bambang, adalah fase kurasi. Ini peran teman-teman medis sebagai Frontliner, sebagai ujung tombak. Dari awal mereka mengerjakan pekerjaannya dengan segala keterbatasan. APD kurang, ruang isolasi terbatas.

"Di model ini, kami menggerakkan publik untuk membantu tersedianya APD yang banyak dan menggeser ke rumah sakit-rumah sakit," ungkapnya.

Yang kedua ruang isolasi. Ini masih sangat kurang ini. Terutama di Depok, DKI. "Ada banyak kasus yang muncul di grup-grup WA kita. PDP masuk rumah sakit, tapi karena tidak membutuhkan penanganan kuratif lebih lanjut, maka disuruh pulang. Tetapi sistem di lingkungan, di rumah dll, tidak tersedia. Makanya kita set up upaya untuk menciptakan ruang isolasi bagi mereka," tambahnya.

"Kalau boleh mengusulkan, kita mengubah fungsi masjid dan sekolah berbasis RT atau RW yang sekarang kosong, menjadi ruang-ruang isolasi. Walaupun dilengkapi kenyamanan yang memadai. Agar PDP atau minimal ODP di sekitar kita itu terpantau. Dengan secara periodik juga mendatangkan tim medis untuk memantau perkembangannya," lanjutnya.

Bambang juga menjajaki kerja sama perhotelan terutama hotel bintang bawah seperti Losmen dan pusdik, agar mereka mau memberikan ruang-ruang itu. "Yang sebenarnya hari ini terpenuhi targetnya, ada tempat tidur kamar yang nyaman dan sebagainya, tapi tidak terpakai karena WFH. Jadi ini kita sulap jadi ruang-ruang isolasi baru bagi ODP dan PDP," ungkapnya.

Yang tidak kalah penting juga hari ini kata Bambang, adalah pemulasaran jenazah.

"Kalau di sekitar rumah saya kami membahas dengan pak RT untuk menyiapkan tim khusus. Walaupun pemerintah sudah punya. Kita blended ke sana satu tim khusus pemulasaran jenazah. Beberapa lembaga sudah menyiapkan trainernya, dengan beberapa SOP yang disiapkan Kementerian kesehatan. Hari ini ditrainingkan ke masyarakat agar setiap RT itu minimal memiliki relawan-relawan penanganan pemulasaran jenazah. Jangan sampai kasusnya terjadi seperti kemarin. Karena ketidakpahaman, jenazah pejuang malah, itu tertolak. Ini sangat mengecewakan dan sangat menyedihkan," bebernya.

Terakhir, aspek resesi. Menurutnya, sudah dibahas di Satgas BNPB hari Jumat, proyeksi BNPB ini akan menjadi cukup lama penanganan sampai 3 bulan ke depan. Sudah dibahas kemampuan bertahan masyarakat. "Di fase resesi ini, kita harus membangun ketangguhan keluarga. Keluarga sebagai basisnya. Harus ada fasilitator yang memperkuat keluarga-keluarga tersebut, agar bagaimana caranya supaya bisa survive," terangnya.

"Ada beberapa agenda di sini, yang ramai adalah distribusi sembako dan makanan jadi. Teman-teman bisa menginisiasi di basis RT masing-masing, dengan data tetangga yang masuk kategori miskin dan menyebarkan dalam bentuk natura maupun uang. Lalu yang membutuhkan suplai bahan sembako kita konversi menjadi paket dan mengaktivasi warung-warung makan berbasis RT. Di tempat saya ada lima warung makanan, tapi yang berjualan pagi itu ada 3 nasi uduk, yang dua semacam warteg. Nah yang semacam warteg inilah yang kemudian kita aktivasi untuk menyuplai volume makanan jadi bagi keluarga yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengolah makanan. Tadi pagi juga kami bahas di komunitas, bahawa ada lagi kebutuhan yang luput dari kita, yaitu kebutuhan bahan bakar gas. Jadi, karena terkooptasi dengan kebutuhan masyarakat akan sembako, jadi kita menyiapkan bahan makanan mentah. Tetapi kita lupa kalau mereka mengakses bahan mentah itu butuh bahan bakar yakni gas untuk memasaknya. Tadi kita formulasi ulang, bentuknya semacam voucer, kemudian kita bekerjasama dengan retail yang ada, alfa, indo, 212, dan daya mart. Nanti masyarakat akan mengonversi voucer itu berdasarkan kebutuhan mereka. Jadi kalau mereka butuh gas, mereka beli gas dan bahan-bahan baku lainnya. Jadi konsepnya menjadi lebih terbuka hari ini dengan voucer belanja," paparnya.

Di luar itu semua lanjut Bambang, ada basis personal yang sifatnya untuk keluarga. Yaitu ketahanan keluarga. Ini masih langka dan masih jarang dan cenderung luput dari pembahasan. Tapi ini penting. Karena berdasarkan hasil diskusi dengan lembaga-lembaga zakat, akan sulit untuk mendistribusikan sumber daya dari satu kawasan ke kawasan yang lain, karena episentrum wabah itu menyebar di banyak tempat. Setiap pimpinan daerah itu hari ini menghitung atau mengkalkulasi sumber daya-sumber daya yang dimiliki. Yang paling gampang itu membagi. Di titik tertentu nanti akan terjadi resesi, di mana suplai terbatas dan demand cukup banyak. Aspek ini yang membuat adanya keharusan masyarakat harus mandiri.

"Kita memerlukan suplai mandiri pada dua hal, kebutuhan terhadap serat dan kebutuhan terhadap protein. Ini pemenuhannya berbasis keluarga. Yang dilakukan lembaga sosial zakat hari ini adalah, menginisiasi kebun pangan keluarga untuk menyadarkan masyarakat bahwa mereka bisa memproduksi sendiri. Misalnya di Depok, di daerah Pancoran Mas. Ada ember ukuran 20 liter untuk beternak ikan lele. Untuk ember sebesar itu kapasitasnya bisa 200 ekor bibit lele. Di permukaan atasnya bisa jadi media semai sayuran. Yang kita lihat di gambar itu adalah persemaian kangkung," paparnya.

"Kalau kita set up ini di rumah, dengan model ini saja cukup satu ember saja. Dengan masa panen 40 hari, mereka sudah bisa punya stok lele 200 ekor. Kalau satu RT punya 20 rumah, tidak ada problem untuk kebutuhan mereka. Kalau periode panennya kita giliran," jelasnya.

Hari ini lanjut Bambang, kita bisa melakukan turorial sederhana bagaimana memanfaatkan lingkungan untuk bisa memproduksi bahan makanan. Misalnya, ini lima langkah beternak lele dengan mudah. Lima langkah berkebun dengan polibag dan hidrponik. Ini sebenarnya adalah bagaimana menciptakan koeksistensi masyarakat bisa survive dalam menangani dinamika yang hari ini mereka jalani.

Kalau hari ini masyarakat dalam bentuk lembaga terutama lembaga zakat sudah melakukan. Di forum zakat ada puluhan lembaga bergerak secara masif di seluruh Indonesia untuk membantu penanganan covid ini. "Kita aktif di 33 provinsi dan resources yang tersedia untuk covid ini ada Rp30 miliaran. Yang perlu dipahami di lembaga ini, ada lembaga yang memproduksi gagasan seperti yang tadi saya sampaikan. Di-campaign ke publik, publik berdonasi dan itu disampaikan ke masyarakat yang membutuhkan," terangnya.

Forum zakat ini mengelola seluruh pulau besar di Indonesia. Ada 11 agenda di fase kurasi dan edukasi. Koeksistensi itu fase terakhir.

Pertama kata Bambang, saluran informasi, lalu edukasi prilaku, layanan penyemprotan disinfektan. "Format baru adalah hand wash station. Ada layanan ambulans. APD sampai hari ini banyak mengalir. Banyak produksi lokal. Dokumen protokol pencegahan covid-19 kita buat untuk prilaku masyarakat memutus mata rantai Covid-19," pungkasnya.