Redaksi : Kamis, 09 April 2020 10:15
Pamflet Diskusi Online, Achmad Nur Hidayat

JAKARTA, BUKAMATA - Achmad Nur Hidayat, kembali menggelar diskusi online via aplikasi Zoom. Narasumbernya, seorang ahli virus atau virolog. Namana, Sidrotun Naim, PhD. MPA. Selain virolog, juga analisis kebijakan dari Insrat.

Diskusi yang diikuti puluhan partisipan itu, juga direcord dan live youtube di channel Narasi Institute. Temanya, "Perang Total, Kenali Musuhmu (Covid-19)".

Pada kesempatan itu, Sidrotun bilang, Covid-19 ini bisa dilihat dari sisi positif juga. Ada sebuah konsern yang besar, di mana berbagai disiplin ilmu menyumbangkan sesuatu yang positif untuk mencegah Covid-19. Juga bagaimana ahli farmasi, meracik obat dalam waktu singkat.

Setelah satu bulan lebih, menurut Sidrotun, banyak paparan. Termasuk dari Fakultas Ilmu Budaya UI yang mengkaji sejarah penanganan virus pada jaman Hindia Belanda 1918. Pada saat itu kata Sidrotun, wabah sedang berjangkit di Indonesia yang waktu itu masih dijajah oleh Kerajaan Belanda. Ketika ditanya soal wabah, Ratu Belanda waktu itu bilang di Hindia Belanda masih baik-baik saja.

Di tengah bencana menurut kajian itu, saat itu ada juga kalangan oportunis. Dokter Belanda menaikkan tarif. Mereka juga menganggap itu flu biasa.

"Ada juga yang menaikkan biaya keranda. Dulu di Jawa keranda mayat masih kotak, dulu kotak kayu keranda diperbesar sehingga dinaikkan harganya," ujar Sidrotun.

Terakhir dalam bacaan itu kata Sidrotun, ada manipulasi data. Dulu kata dia, dilaporkan 700 ribu. Namun setelah studi selanjutnya, ternyata diperoleh ada hingga 1,5 juta orang yang terjangkit.

"Tidak tahu, apakah sekarang ada juga seperti itu," ujar Sidrotun.

Menurut Sidrotun, ini menarik, bagaimana virus dilihat dari perspektif ilmu sosial.

Sidrotun juga menampilkan statemen Ibu Susi Pudjiastuti yang bilang virus tidak tahan terhadap suhu dan tempratur. "Ini juga menarik kita kaji," jelasnya.

Menurut Sidrotun, kita harus berangkat dari kasus positif, bukan pada kematian. Kasus Kematian itu kata dia, bukan hanya faktor covid, karena bisa faktor usia, juga bisa karena faktor lain.

Dia lalu menampilkan grafis tempratur di zoom. Peta dunia dengan warna yang melambangkan tempratur. "Hijau itu China, Amerika. Dan Indonesia serta Australia itu merah," ujarnya.

Menurut Sidrotun, kalau dari segi jumlah kasus, Indonesia sebanding negara tetangganya. Tapi yang mengkhawatirkan adalah jumlah kematian yang lebih tinggi. Berdasarkan data kata wanita berhijab asal Bandung ini, di Indonesia ada 191 kematian dari 2092 kasus positif.

Menurut Sidrotun, saat ini kita harus berpikir bukan karena kita di daerah tropis. Tetapi mindset kita di bawah itu kasus banyak. Kita kata dia, seharusnya membayangkan bulan depan sampai 100 ribu.

"Kita harus siaga satu seperti akan bertempur dengan harimau. Kalau kasus 5000 itu mungkin kita anggap kecil, bertarung dengan kucing. Tetapi kalau menurut saya, pada kondisi kita tidak menentu saat ini, lebih baik kita siaga satu memposisikan seperti akan bertempur dengan harimau. Meskipun kita nantinya akan bertarung dengan kucing, minimal persiapannya sudah seperti akan bertarung dengan harimau. Walaupun nanti ada resources yang terbuang, kalau kita memikirkan risikonya, kita tidak boleh santai," tegasnya.

Kesantaian Indonesia ini lanjut dia, masih terkait sains. "Waktu di Wuhan diumumkan, justru orang yang banyak bertanya, ini senjata biologis atau bukan. Ini yang banyak mengganggu. Padahal dari sisi saintik, kemungkinan senjata biologi itu kecil. Artinya ini adalah virus, yang bermutasi secara alamiah, dari kerabatnya. Kita dari awal terganggu dari hal yang sebetulnya tidak esensial. Itu senjata biologis atau bukan, hidup di tropis atau tidak. Terus dari sisi obat tradisional yang kita kenal ini membuat kita kebal atau tidak. Itu semua mengganggu dari sisi konsentrasi," jelasnya.

Itu lanjut Sidrotun, menjadi harga mahal yang harus kita bayar. "Ketika jadi guyonan di publik, ternyata di tingkat pengambil kebijakan, ini juga jadi guyonan," tambahnya.

Tadi kan dari sisi suhu, ternyata yang juga berpengaruh adalah dari sisi dosis UV. Karena daerah dengan garis lintang yang sama, tetapi kadar UV-nya beda, juga kasusnya beda.

"Misalnya, Australia dengan Islandia. Atau Islandia dengan Chicago. Kasus di Chicago lebih sedikit karena paparan UV-nya lebih tinggi," ungkapnya.

Dari gambaran ini papar dia, kesimpulannya secara fakta. Kasus itu lebih banyak di belahan bumi utara dengan suhu sub tropis, dibanding dengan tropis.

Daerah yang UV-nya lebih tinggi, kemungkinan kasusnya lebih kecil. "Tapi untuk saat ini belum bisa disimpulkan. Itu yang terjadi, tapi apakah itu berpengaruh, sebaiknya tidak disimpulkan seperti itu, karena itu hanya akan membuat negara-negara tropis lebih santai dan jangan-jangan itu iceborg (fenomena gunung es), kasusnya banyak di bawah tapi kita tidak mampu mendeteksi," ungkapnya.

"Kalau Korsel, Taiwan dan Asia Timur banyak dibahas. Saya mau mengambil model dari Islandia. Secara populasi, Islandia tidak bisa dibandngkan apple to apple dengan Indonesia. Dia penduduknya hanya 300 ribu, negara kaya, jadi mau ngapain aja bisa," papar Sidrotun selanjutnya.

Beberapa hari lalu kata dia, ada publikasi. Meski belum disubmit kata dia, sekarang sains bisa diakses publik meskipun reviewnya belum.

"Dan toh, data itu setelah direview tidak terlalu banyak berubah datanya," jelasnya.

Islandia kata Sidrotun, melakukan tes ketika kasusnya belum banyak. Baru mencapai 500, mereka sudah melakukan tes ke 300 orang. Atau sekitar 66 persen sudah dites.

Islandia kata dia, bahkan sudah melakukan geenom sequency untuk virusnya sampai pada DNA-nya. Jadi mereka lanjut Sidrotun, sudah tahu persis siapa itu musuhnya dalam hal ini Covid-19.

"Bahkan sampai pada data genetik warganya. Jadi dia sudah tahu, dari semua data medis itu siapa yang paling berisiko ketika positif. Tentu treatmentnya berbeda. Ini hanya gambaran bahwa Indonesia harus juga seperti itu ke depan, harus punya data. Data itu seperti KTP-lah, NIK kita pun nanti bisa di-pull, ada pull dengan baik," jelasnya.

Dari 300 orang Islandia yang dites genetik lanjut Sidrotun, bisa dipetakan. Ada 8 stren atau 8 jenis. Secara genetik, kemudian 8 jenis itu dikelompokkan jadi dua. Yang satu kodenya A, yang satu B.

Yang menarik lanjut Sidrotun, kode B ini adalah kode tua. Yang paling origin. Di Wuhan kata dia, jenisnya yang paling berkerabat dengan B bukan dengan A. Tetapi, makin ke sini, yang B itu ternyata makin sedikit.

"Hipotesisnya begini, virus itu hanya punya dua strategi ketika berevolusi, ketika bermutasi. Yang pertama, untuk virus patogenik yang merugikan (karena dalam tubuh kita ada juga virus yang bermanfaat membantu pencernaan). Tapi virus yang asalnya dari luar, yang dia infeksi strateginya cuma dua, yang pertama dia membuat dirinya menjadi lebih ganas seiring waktu. Yang kedua, dia ingin cepat menular. Tidak masalah tidak mematikan orang, yang penting yang kena banyak. Untuk virus SARS COV-2 ini, strateginya lebih ke strategi kedua. Bagaimana hanya mengakibatkan infeksi yang ringan, sehingga orangnya sendiri tidak sadar terinfeksi tapi sudah menyebarkan. Yang penting saya sudah jalan ke mana-mana. Jadi strategi virusnya memang seperti itu," jelasnya.

Pokoknya ini virus kata Sidrotun, sudah generasi ke-11. Dan kita masih orang yang sama. Kecerdasan mereka sudah generasi ke-11.

Apa sih konsekuensi virus yang relatif ringan tetapi ada di mana-mana? Infeksi jenis seperti ini hilangnya lama. Waktu di Wuhan kata Sidrotun, strateginya bagaimana orang tidak perlu banyak tapi dapat double effect.

Apa yang beredar di Eropa, di Amerika kata Sidrotun, kalau dari sisi saintifik belum sepenuhnya setuju apakah ada penurunan atau peningkatan keganasan. Yang pasti kata dia, menyebarnya cepat.

"Kalau secara epidemiologi, meskipun itu bukan bidang saya, tapi saya sampaikan sedikit. Kemarin, ketika sebelum melebar di Eropa dan Amerika, nilai Arnott basic reproduktion numbernya 2,5, baru tiga hari lalu Imperio College mempublish, sudah 3,8 di Eropa. Artinya satu orang menginfeksi 4. Kemarin 2,5, satu orang menginfeksi dua orang. Sekarang dua orang menginfeksi 8 orang," lanjutnya.

Tapi itu basic reproduction number kata Sidrotun, sebelum ada intervensi. "Intervensi itu kan harusnya menurun. Misalnya di Jakarta, intervensi dilakukan pada minggu kedua, setelah 12 dari 14 hari. Angka asli sebelum physical distancing, work from home, angkanya itu dihitung teman saya (epidemiolog) sampai 4,2. Angka aslinya Jakarta, di 4,2. Sekarang tentu angka efektinya akan menurun, karena ada intervensi," tambahnya.

"Di sini saya hanya menyampaikan virus itu seperti apa? Dan perilaku menularnya seperti apa? Tentu akan sangat penting," lanjutnya.

Tapi khususnya di Indonesia kata Sidrotun, sepertinya lepas. Aspek pentingnya itu tidak ditelusur.

"Kita seperti masih menggunakan cara-cara tahun 1918 dalam melacak. Contact risk itu masih cara-cara yang lalu, tapi tools itu masih penting, cuma perlu dikombinasikan dengan teknologi yang modern," ujarnya.

Dia lalu memperlihatkan kembali data Islandia. Di sana kata Sidrotun, ada hijau sekitar 300 orang. Hijau itu kata dia, harus diawasi total orangnya yang terinfeksi. "Harus betul-betul diawasi sampai sembuh. Jangan sampai seperti Jerman. Jerman itu temasuk tinggi, tapi case fatality-nya termasuk rendah. Jerman dianggap sebagai negara yang lebih berhasil," jelasnya.

Sidrotun bilang, mau virusnya ganas atau penularannya lebih cepat, harusnya lebih dipetakan.
"Terserah kita, apakah kita akan pakai teknologi, atau intuisi dengan mengira-ngira. Kita kan dari dulu di Indonesia juga sering pakai intuisi. Kalau tidak mau pakai teknologi, bisa pakai intuisi, nggak apa-apa. Kalau nggak (dipetakan), lepas," jelasnya.

Di Asia itu lanjut Sidrotun, virusnya kategori A, menyebarnya cepat. Kalau di Amerika, karena kasusnya lebih banyak di samping jenis yang ganas, juga cepat menyebar.

"Di Islandia, sudah punya 8 jenis. Kalau di Indonesia yang mana? Saya tidak dapat datanya. Misalnya yang Depok, katanya dari Jepang, makanya Depok tingkat fatalitasnya tidak terlalu tinggi, karena nenek moyangnya di Jepang juga tidak terlalu tinggi tingkat fatalitasnya," ungkapnya.

"Jakarta dapatnya dari mana? Kita tidak bisa simpulkan kalau tidak melakukan tracing seperti ini. Apakah dapatnya orang yag pulang dari China, Eropa, Amerika. Kita tidak tahu. Tapi secara kasat mata, dari jubir, Jakarta memang sangat challengin, karena jumlah yang meninggal masih banyak. Kalau di China di Wuhan bisa melalui lockdown," jelasnya.

Kalau secara virologi lanjut Sidrotun, mengenali genetik itu penting. Seharusnya contact tracing dilakukan betul-betul saat ada kasus pertama. Dua minggu terakhir ketemu siapa.

"Kalau di Islandia, diketahui dengan sangat pasti, dari mana. Dan diketahui juga dengan pasti peredarannya. Misalnya dari Italia, itu beredar di Islandia bagian mana. Austria itu di Islandia bagian mana lagi," ungkap Sidrotun.

Korsel dan Islandia lanjut Sidrotun, adalah dua negara yang mati-matian melakukan tes. Karena dari awal kata dia, mereka berkomitmen untuk tidak melakukan lockdown. "Dan Korsel berhasil," ungkapnya.

"Terlepas misalnya, semua faktor bergabung, fasilitas kesehatan bagus, mereka dapat virus yang bukan ganas, juga melakukan tes yang akurat. Sehingga korsel itu tidak kecolongan. Karena tesnya dilakukan sebelum kasusnya membesar. Karena tidak mungkin juga disetop, pasalnya sudah ada di lingkungan mereka sebelum ada obat, sebelum ada vaksin," paparnya.

Sebenarnya data-data seperti itu lanjut Sidrotun, penting dipakai untuk mengambil keputusan. Misalnya di mana konsentrasi untuk penempatan pasukan.

"Misalnya di mana penanganannya level 2. Katakanllah di Indonesia, semua bertempur di Jakarta, tapi daerah lain juga tidak boleh diabaikan," tegasnya.

Dari tabel kata Sidrotun, Islandia juara dalam penanganan Covid-19. Kalau Indonesia lanjut dia, nomor dua dari bawah. "Sengaja saya tidak cantumkan. Kita itu baru 2 orang dalam 100 ribu penduduk yang dites (Covid-19)," jelasnya.

Sidrotun berpendapat, saat ini pemerintah harus menyiapkan bad atau tempat tidur di setiap daerah. Itu kata dia untuk mengantisipasi.

"Seperti mengantisipasi macan tadi itu. Kalau pun tidak terjadi, antisipasi itu tidak pernah sia-sia," terangnya.

Yang terakhir kata dia, data polling seperti pada pemilu itu jarang bisa akurat. Apalagi yang asumsinya dari awal kurang hati-hati.

"Ada yang bilng tidak sampai 6000. Itu dipegang bapak menko maritim sesuai yang saya baca di berita. Kemudian gugus tugas bilang 100 ribu katanya (info) dari BIN. Kalau epiemiolog bilang bisa sampai 1 juta. Angka matematik itu penting, tapi intuisi epidemiolog itu yang harus kita ikuti," tegasnya.

Menurutnya, selalu ada angka-angka yang bermacam-macam. Padahal, kebijakan pemerintah kata Sidrotun, harus berbasis data, bukan karena ketakutan.
"Serahkan saja ke ahlinya. Kalau penyakit menular itu dari epidemiolog, nanti selanjutnya baru ke ahli tata negara dan ahli-ahli lainnya," pungkasnya.

Analis Kebijakan Publik, Fadil Hasan berpendapat, pasca reformasi, kebijakan itu kurang kuat kajian akademisnya. "Scientific policy kurang kuat digunakan," ujarnya.

"Apa yang disampaikan bu Naim itu sangat penting. Tapi tantangan bu Naim, apa yang dibuat dan dianalisis itu harusnya disampaikan untuk menjadi kebijakan," ujarnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Sidrotun harusnya punya akses ke policy maker atau pengambil kebijakan.

"Pemikiran-pemikiran bu Naim kalau tidak punya akses ke pengambil kebijakan, harusnya dibuka ke publik," jelasnya.

Ke depannya kata Fadil, perlu tes yang lebih banyak, dan berdasar itu kita bisa mengambil kebijakan yang lebih tepat.

"Saya setuju dengan bu Naim, kita sudah telat melakukan testing dalam skala besar. Sekarang testing itu untuk mengetahui di mana dan sebesar apa, sehingga ada kebijakan yang lebih tepat. Sekarang ini, asumsi saya sudah ke mana-mana. Tadi pak Ridwan Kamil (Gubernur Jabar) mengatakan, dari 15 ribu yang dites ada 677 orang yang positif. Dari situ saja sudah diketahui sebenarnya, dari jumlah penduduk kita berapa dan yang sudah terjangkit berapa" jelasnya.

Sekarang challenge berikutnya kata Fadil, apakah policy PSBB dengan kasus yang sudah menjalar ke mana-mana, apakah sudah tepat.

"Apalagi PSBB sekarang ini tidak terlalu ditaati. Perppu memang ada, tapi protokolnya belum ada. Saya tanya ke kantor Wapres, apakah sudah ada protokol PSBB-nya, dia bilang sedang dibuat. Jadi memang, kita ini telat, ini memang mengkhawatirkan. Kita tidak tahu keadaan sebenarnya, dan kita tidak tahu kebijakan penanganannya seperti apa," papar Fadil.