JAKARTA, BUKAMATA - Sebuah live diskusi online yang dipandu, pengamat kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat, menampilkan tema tentang "Kenali Gangguan Jiwa di Saat Covid19".
Diskusi online ini, menampilkan Guru Besar Psikologi UI, Prof Hamdi Muluk, juga Ekonom Senior yang juga Pendiri Indef, Dr Fadil Hasan.
Pada bagian awal diskusi online via aplikasi Zoom ini, Achmad Nur Hidayat atau yang akrab disapa Mat Nur, memperlihatkan sebuah video dari menteri keuangan Jerman yang bunuh diri karena khawatir dengan Covid-19. Juga video Nikita Mirzani yang marah-marah karena didatangi orang-orang yang meminta bantuan.
Diskusi online itu diikuti 85 partisipan di Zoom. Juga ada 20 yang mengikuti di siaran live channel youtube Mat Nur.
Pada kesempatan itu, Prof Hamdi Muluk menerangkan, fenomena sosial seperti bunuh diri dan emosional bisa saja dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 ini, mengenai kebijakan Work From Home, Stay at Home dan sebagainya.
Ketua Program Studi Doktor Psikologi UI kelahiran Padang Panjang ini mengatakan, Covid-19 ini mungkin adalah pandemi pertama yang kita alami selama beberapa dekade ini.
Dulu kata dia, ada kasus SARS dan MERS, tapi tidak jadi pandemi di Indonesia. Dalam teori psikologi sebut Prof Hamdi, ada namanya life difficult case, sebuah kesulitan hidup yang terdampak ke banyak orang.
Sejak Nabi Adam, kata Prof Hamdi, stres sudah ada. Stres itu kata dia, ada beragam bentuk. Ada yang ringan, lanjut ke akut, akut yang episodik, lalu koronik atau stres berat.
Stres berat itu sebut dia, memiliki rentetan berikutnya, yakni depresi. "Kalau depresi tidak bisa diatasi, ujungnya bisa bunuh diri. Kalau orang sudah putus asa, tidak ada lagi setitik cahaya dalam dirinya, maka orang biasanya bunuh diri," lanjut Prof Hamdi.
Setiap orang lanjut Prof Hamdi, bisa mengalami stres. Itu adalah tekanan hidup. Dalam konteks life difficult Case ini, semua terdampak. Sumbernya sama. Pandemik Covid-19. Hidup lalu berubah cepat. Sekonyong-konyong. Dan ini bisa berdampak berbeda-beda pada banyak orang.
Secara psikologi lanjut dia, teori tentang stres sederhana. Terjemahan bebasnya adalah tekanan hidup, sesuatu yang mengancam hidup kita. Stres itu sebut dia, ada sumbernya. Sumbernya sekarang adalah pandemik yang meluluhlantakkan kehidupan sehari-hari.
Tukang ojol tidak mendapatkan penumpang, tukang bakso tidak mendapatkan pelanggan. Itu life difficult case.
"Dalam kehidupan sehari-hari kan ada yang stres karena diputusi cinta. Ada yang stres karena cuma dikasi satu jempol ke bawah di media sosial. Ada yang karena kehilangan jabatan. Itu semua sifatnya individual case," jelasnya.
Secara psikologis lanjut Prof Hamdi, yang menarik sebenarnya bukan sekadar stres itu sendiri. Tetapi bagaimana kita meresponsnya.
Bagi orang tertentu sebut Prof Hamdi, bagaimana kita mempersepsikan sumber stres itu dan bagaimana kita meresponsnya.
"Ada yang mempersepsikan menakutkan, mengancam jiwa, ada yang bilang biasa saja. Yang pertama bagaimana Anda mempersepsikan," ungkapnya.
Selanjutnya kata Prof Hamdi, bagaimana meresponsnya, apakah aktif atau pasif. Lalu bagaimana mengatasinya (How to cope), mencari sumbernya. "Ada dua jenis how to cope, ada orientasinya emosional. Ada yang bisa meredakan stresnya dengan pendekatan emosinya. Ada juga langsung ke sumber masalahnya," jelas Prof Hamdi.
Ada juga melalui pendekatan agama, atau sesuatu yang bisa menenangkan batin.
Kalau tidak diatasi kata Prof Hamdi, stres ini bisa masuk fase depresi. Kalau berlanjut-lanjut, maka akan merusak. "Lu udah gila belum?" Ini pertanyaan penting. "Ini masih normal gak sih?"
"Kalau yang parah namanya psikosis (orang gila yang sudah masuk ke rumah sakit jiwa)," jelasnya.
Prof Hamdi menyederhanakan cara kita mendeteksi tingkatan stres dengan 4 D. Yang pertama kata dia adalah Deviance. Mulai aneh-aneh. Mulai berpikir menyimpang.
Lalu apakah kita mengalami Distress? Itu akan berdampak pada psikosomatis, biasanya masuk ke fisik misalnya, mual-mual dan sebagainya.
Kemudian, apakah mulai banyak disfunction. Bisa disfungsi sosial, keluarga, atau pekerjaan.
Selanjutnya apakah prilaku kita sudah Danger atau membahayakan orang. Membuat orang tidak nyaman.
"Kalau belum mengganggu orang lain, itu adalah reaksi temporer," ungkapnya.
Setiap periode stres seperti ini kata Prof Hamdi, akan menimbulkan rasa sedih. Biasanya ada periode kemudian orang mengingkari, kemudian ada anger atau marah-marah.
"Setelah itu orang mulai bargain. Tawar menawar dengan situasi. Kalau bargain gagal, biasanya ada depresi. Setelah itu, biasanya ada priode menerima (Acceptance). Beradaptasi dengan situasi itu. Setelah itu orang mencari makna, ada hope, ada solidaritas dan usaha-usaha ke arah yang lebih positif," terusnya.
Ini siklus kata Prof Hamdi, akan kita lewati. "Ini kita pandang sebagai masalah sosial bersama. Ini saya bahasakan psikososial, kita harus atasi bersama untuk sampai ke acceptance lalu mencari meaning dan sampai kepada solusi," tegasnya.
Sebelum menyerahkan ke Ekonom Senior, Fadil Hasan, Mat Nur sebagai host menimpali, kalau ini tetap perlu campur tangan otoritas.
Sementara itu, Ekonom Senior, Fadil Hasan menilai kita harus membagi kelompok masyarakat berdasarkan sumber dari stres itu sendiri.
Menurutnya, stres berbeda untuk setiap kelompok masyarakat. Bagi kalangan atas kata Fadil, itu bukan terkait kesukaran hidup. Mereka sudah menyetok beberapa bahan makanan sebelum Work From Home.
"Sehingga sumber stres mereka mungkin berbeda dengan kelompok menengah ke bawah. Mereka yang harus keluar dari rumah untuk mencari kebutuhan rumah tangganya," jelas Fadil.
Menurut Fadil, butuh peran dan partisipasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Masyarakat kelas atas ini lanjut Fadil, bisa mengatasi sumber stres masyarakat bawah.
Diskusi online ini berlangsung dua jam, dan Mat Nur memberikan kesempatan kepada partisipan untuk bertanya kepada dua narasumber.
BERITA TERKAIT
-
Tanda Resesi Global Muncul, Harga Minyak Turun, Suku Bunga Meningkat
-
Dunia Khawatir Cara AS Tangani Runtuhnya Silicon Valley Bank
-
Partai Gelora Soroti Pemberian Izin Orang Asing Tinggal 10 Tahun di IKN
-
MA Diharapkan Buat Pernyataan agar KPU Bisa Abaikan Putusan Penundaan Pemilu 2024
-
Liberalisasi Ekonomi Rentan Diterpa Krisis, Pemerintah Diminta Perkuat Kemandirian Bangsa