Redaksi
Redaksi

Sabtu, 21 Maret 2020 14:37

Ilustrasi
Ilustrasi

Usai Jual Putrinya ke Dukun, Pengusaha Ini Pesan Kaki Kanannya untuk Ramuan Kaya

Praktik ilmu hitam di Afrika, masih marak. Penganutnya tak peduli, meski harus mengorbankan anak kandungnya.

TANZANIA, BUKAMATA - Sadis. Praktik ilmu hitam untuk mendapat kekayaan, hingga kini masih banyak dilakukan manusia. Khususnya di Tanzania, salah satu negara di benua Afrika. Meski praktik itu harus menumbalkan anggota keluarga sendiri.

Seorang pria di Tanzania yang berprofesi sebagai pengusaha, telah melego putrinya yang berusia 6 tahun. Rose Japhet namanya. Ayahnya menjualnya seharga 5 juta shilling atau sekira Rp41,5 juta.

Anak itu dijual untuk dibunuh sebagai tumbal. Bagian tubuhnya dapat digunakan untuk ramuan guna membuatnya kaya.

Sebuah pernyataan polisi mengatakan, Rose Japhet, terbunuh minggu lalu dan jenazahnya ditemukan di distrik barat daya Mbeya.

Daerah itu sendiri merupakan suatu wilayah yang akrab dilanda serentetan pembunuhan anak-anak untuk ritual.

"Mayatnya ditemukan dipenggal. Kaki kanannya diamputasi," kata pernyataan itu.

Polisi menambahkan, kaki itu ditemukan terkubur di dekatnya.

Pengusaha itu ditangkap, bermaksud untuk memberikan kaki korban kepada tabib sehingga ia akan membuat ramuan yang akan membuatnya kaya raya.

Pengusaha itu mengakui keterlibatannya dan polisi masih memburu si dukun.

Mbeya berada di dekat wilayah Njombe, tempat sedikitnya 10 anak berusia antara 2-10 tahun ditemukan tewas pada Januari lalu, dalam kasus pembunuhan untuk ritual.

Sementara pembunuhan semacam itu tidak biasa di Tanzania, namun anak-anak albino sering diculik dan bagian tubuh mereka dipotong untuk digunakan sebagai mantra dan ramuan magis, dengan keyakinan bahwa mereka membawa kekayaan dan keberuntungan.

Diwartakan dalam HRW (9/2/2019), pembunuhan dan mutilasi albino, terutama anak-anak, di Tanzania memang sering terjadi.

Tindakan penculikan disertai pembunuhan untuk ritual itu, mulai menjamur tahun 2000-an.

Anak-anak yang albino hidup seperti dalam 'hukuman' karena merasa ketakutan, bahkan mereka terkadang harus menjauh dari lingkungan sosial atau tidak mengikuti sekolah karena khawatir menjadi korban.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Populer