Amerika serikat sering kali menjadi kunci dari peperangan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Negara paman Sam ini menganggap dirinya sebagai negara superpower yang memegang kendali atas kedaulatan suatu negara. Telah banyak negara yang menjadi korban atas propaganda dan kebohongan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, walaupun pemimpinnya berganti namun propaganda itu seakan-akan telah mengakar pada diri seorang presiden Amerika.
Narasi “menjaga stabilitas dunia”,” melindungi demokrasi” ataupun “membebaskan warga negara” seringkali menjadi alasan yang terus diulang oleh Amerika untuk memerangi suatu negara yang tidak sejalan dengan dia. Namun, sejarah telah mencatat bahwa dibalik retorika yang apik tersebut, sering kali terselubung kepentingan politik, ekonomi, dan dominasi kawasan. Sehingga propaganda tersebut hanyalah lagu yang di putar kembali melalui kaset baru yang telah dimainkan Amerika.
Ancaman Nuklir sebagai Justifikasi militer
Sejak awal konflik Israel dan Amerika dengan Iran, klaim tentang program nuklir Iran menjadi alasan utama Amerika dan Israel untuk melakukan intervensi militer langsung. Argumentasi ini sering kali di lontarkan oleh Presiden Trump sebagai dalih perlindungan negara terhadap ancaman nuklir Iran. Namun kenyataannya sampai saat ini belum ada laporan secara resmi yang mengindikasikan bahwa Iran memiliki senjata nuklir tersebut. Menurut laporan IAEA (International Atomic Energy Agency) hingga pertengahan 2025 tidak ada bukti konklusif bahwa Iran sedang aktif memproduksi senjata nuklir. Meskipun Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi (60%) yang cukup untuk membuat beberapa bom nuklir, IAEA menegaskan mereka belum memiliki senjata nuklir aktif. Namun Amerika tetap mengklaim bahwa Iran memiliki senjata nuklir yang sewaktu-waktu mengancam Amerika.
Propaganda semacam ini kerap kali di lakukan oleh Amerika di beberapa negara diantaranya, fitnah besar yang ditujukan kepada Saddam Husein yang di tuduh bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, walaupun demikian sampai sekarang setelah kematian Saddam Husein di tali gantung Amerika, sama sekali tidak terbukti bahwa Irak pernah memiliki atau sedang memiliki senjata pemusnah massal. Propaganda semacam ini merupakan justifikasi militer yang sangat merugikan suatu bangsa dan negara karena menyisahkan luka sosial dan instabilitas berkelanjutan. Kini, pola serupa kembali terlihat dalam ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Isu nuklir kembali dijadikan legitimasi moral untuk membenarkan tekanan militer dan sanksi ekonomi. Padahal, konflik di Timur Tengah tidak pernah berdiri di atas satu variabel tunggal. Ia adalah akumulasi sejarah panjang kolonialisme, perebutan pengaruh, kepentingan energi, dan politik identitas.. Sebuah pola propaganda yang dipakai untuk meraih dukungan domestik Barat.
Pahlawan dunia yang menghancurkan peradaban manusia
Negara peserta Perang Dunia Kedua ini sering kali menyebut dirinya sebagai negara yang banyak membebaskan hak-hak rakyat suatu bangsa. Sebagai aktor utama dalam Perang Dunia Kedua, Amerika memang berperan penting dalam mengakhiri rezim fasis di Eropa dan Asia. Namun kemenangan tersebut sekaligus menandai era dominasi global baru. Retorika “membebaskan bangsa” kerap menjadi pintu masuk intervensi Amerika. Dari Vietnam hingga Irak, dari Afganistan sampai ke negara Amerika latin, dalih demokratisasi dan stabilitas selalu menjadi pembenaran. Namun pada akhirnya, intervensi yang dibungkus dengan narasi pembebasan itu justru menimbulkan instabilitas berkepanjangan akibat eskalasi militer yang terus diperluas. Konflik yang semula diklaim sebagai upaya penyelamatan berubah menjadi lingkaran kekerasan yang sulit dihentikan. Infrastruktur hancur, korban sipil berjatuhan, dan generasi baru tumbuh dalam bayang-bayang trauma perang.
Yang kemudian menjadi pertanyaan mendasar adalah: mengapa hampir setiap narasi “pembebasan” justru berujung pada peperangan yang sangat tragis? Jika benar tujuan utamanya adalah membebaskan suatu bangsa, mengapa yang tertinggal justru kehancuran dan ketidakstabilan? Fakta sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang pernah diperangi oleh Amerika Serikat dengan dalih pembebasan tetap mempertahankan tatanan konstitusinya dan kedaulatan politiknya. Vietnam, misalnya, pernah menjadi medan perang besar dengan narasi bahwa intervensi dilakukan untuk menyelamatkan rakyatnya dari ideologi tertentu. Namun pada akhirnya, Amerika angkat kaki tanpa memperoleh kemenangan yang diklaim di awal. Vietnam tetap berdiri sebagai negara merdeka di bawah kepemimpinan politiknya sendiri.
Hal yang hampir serupa terjadi di Afghanistan. Selama puluhan tahun negeri itu menghadapi perang dengan dalih membebaskan rakyatnya dari ancaman ekstremisme dan membawa demokrasi. Akan tetapi, setelah pengorbanan yang begitu besar dan biaya perang yang luar biasa, Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan tanpa hasil yang sebanding dengan narasi awalnya. Penarikan pasukan itu bahkan dipandang banyak pihak sebagai simbol kegagalan strategi panjang yang dibangun atas retorika pembebasan.
Dari dua contoh tersebut, terlihat bahwa bangsa-bangsa yang diperangi tidak serta-merta kehilangan identitas atau kedaulatannya. Justru, dalam banyak kasus, intervensi eksternal memperkuat semangat nasionalisme dan perlawanan rakyat terhadap campur tangan asing. Propaganda mungkin mampu membentuk opini global, tetapi tidak selalu mampu mengubah kehendak suatu bangsa atas nasibnya sendiri.
Kini, Iran menjadi sasaran selanjutnya, melakukan agresi militer di kawasan dan melontarkan propaganda untuk membebaskan penduduk Iran dari rezim Ayatullah. Tentu tindakan yang dilakukan oleh Amerika ini tidak lain hanya bagian dari tipu muslihat untuk merebut dominasi di kawasan. Pemerintah AS, bersama sekutunya, mencoba merumuskan intervensi sebagai bentuk penyelamatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia di Iran — sebuah strategi komunikasi yang tidak jauh berbeda dari sejarah intervensi sebelumnya, tetapi dipandang banyak pihak sebagai tipu muslihat geopolitik belaka, bukan upaya tulus untuk kebebasan sebuah bangsa.
Lantas, inikah yang sering digaungkan oleh Trump tentang “Peace”? apakah perdamaian yang diharapkan Amerika adalah seperti ini? Apakah dengan membunuh pimpinan tertinggi suatu negara adalah jalan untuk menuju kemenangan?. Tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut menimbulkan nostalgia yang pernah dilakukan Trump kepada negara-negara oposisinya.
Iran sebagai permainan oleh Amerika dan musuh bagi Israel
Di beberapa kesempatan, Amerika seringkali disebut sebagai alat permainan dari Amerika agar produk alutsista dan perang Amerika dapat dijual kepada lawan Iran demi keuntungan ekonomi militer Amerika. Bukan hanya Iran, negara-negara yang tidak sejalan dengan arah politik Amerika juga menjadi sasaran dari propaganda Amerika yang seakan-akan telah menjadi akar pemantik masalah peperangan Amerika dengan negara musuh. Di lain sisi, Zionis Israel menganggap Iran sebagai musuh nyata yang tidak boleh diberikan kebebasan dalam pengembangan senjata dan alutsista mereka. Sehingga kedua negara ini menjadi bayang-bayang yang konflik di kawasan timur tengah.
Lagi dan lagi pola ini kerap dipakai oleh Amerika dalam mengekspansi negara yang bertentangan dengan dia (Amerika). Narasi ancaman keamanan global kemudian dibangun secara sistematis, dimulai dari tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal, pelanggaran terhadap stabilitas kawasan, hingga labelisasi negara tertentu sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Dengan cara demikian, opini publik internasional secara perlahan diarahkan untuk memandang bahwa intervensi militer merupakan tindakan yang sah dan bahkan diperlukan.
Pola ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Dalam berbagai konflik sebelumnya, tuduhan dan propaganda serupa sering kali menjadi pintu masuk bagi keterlibatan militer Amerika di berbagai belahan dunia. Isu keamanan kemudian dipolitisasi, diproduksi dalam berbagai narasi media, dan diperkuat melalui jaringan diplomasi internasional agar memperoleh legitimasi. Pada titik inilah propaganda menjadi alat yang efektif untuk membangun pembenaran atas tindakan agresif yang dilakukan.
Dalam konteks konflik dengan Iran, narasi tersebut kembali dihidupkan dengan wajah yang seolah berbeda, namun dengan pola yang serupa. Iran ditempatkan sebagai pihak yang dianggap berbahaya bagi stabilitas kawasan Timur Tengah, sementara Amerika dan sekutunya memposisikan diri sebagai pihak yang berupaya menjaga keamanan global. Padahal di balik itu semua, terdapat kepentingan geopolitik, ekonomi, dan dominasi pengaruh yang tidak dapat diabaikan.
Lebih jauh lagi, konflik yang terus dipelihara ini justru memperpanjang instabilitas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang terus diproduksi tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga membawa konsekuensi besar bagi masyarakat sipil yang berada di tengah pusaran konflik. Pada akhirnya, perang tidak pernah benar-benar menghadirkan kemenangan bagi kemanusiaan, melainkan hanya memperpanjang lingkaran kekerasan dan penderitaan yang tak berkesudahan.
Editor : Redaksi