Ririn
Ririn

Rabu, 05 Mei 2021 15:05

Ilustrasi
Ilustrasi

Siksa PRT Indonesia, Wanita yang Hamil Tua ini Dipenjara

Korban mulai bekerja untuk Tan pada November 2018 dengan gaji S $ 600 sebulan

BUKAMATA - Seorang wanita yang sedang hamil tua dihukum penjara selama delapan minggu, karena menyiksa pekerja rumah tangga (PRT) asal Indonesia.

Tan Hui Mei, 35 tahun, juga diperintahkan untuk membayar konpensasi $3.200 kepada korban.

Tan dituduh telah memukul dan menampar korban, yang berusia 24 tahun, serta memaksanya makan kapas kotor dan rambut dari lantai toilet.

Pengadilan mendengar bahwa Tan tinggal bersama suaminya, ibu dan ketiga putrinya pada saat kekerasan terjadi.

Menurut laporan CNA, korban mulai bekerja untuk Tan pada November 2018 dengan gaji S $ 600 sebulan. Dia ditugaskan melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak dan merawat putri bungsu Tan, yang masih balita pada saat itu.

Antara November 2018 hingga Maret 2019, Tan menyuruh korban memakan sepotong kapas kotor di atas meja makan dan menyaksikan dia meletakkannya di mulutnya.

Pada periode yang sama, ia juga menginstruksikan pembantunya untuk memakan rambut yang ada di lantai toilet dan juga mengawasinya melakukannya.

Pada Desember 2018, korban menelepon polisi untuk mengabarkan bahwa Tan telah menamparnya beberapa kali karena tidak senang dengan hasil kerjanya, namun korban memutuskan untuk kembali ke rumah Tan untuk terus bekerja.

Pada pagi hari tanggal 30 Maret 2019, korban memandikan dan memberi makan balita Tan sebelum meninggalkan anak tersebut di kamar bersama ibu Tan dan putri kedua.

Ketika balita itu mulai menangis, korban tidak memperhatikannya karena dia mengira ibu Tan atau anak perempuan lainnya akan mengurusnya.

Tan, yang pada saat itu sedang tidur di kamarnya, mendatangi korban dan bertanya mengapa dia tidak merawat balita tersebut. Saat korban mencoba menjelaskan, Tan menampar kedua sisi wajahnya dan memukul dahinya tiga kali hingga membengkak.

Korban tidak membalas dan terus melakukan pekerjaannya.

Malam berikutnya, Tan memanggil korban ke kamar tidurnya dan mengatakan dia tidak bisa tidur karena kakinya sakit. Dia meminta korban untuk memijat kakinya, tetapi korban tertidur saat melakukannya.

Tan kemudian mencubit lengannya dan menyuruhnya untuk tidak menutup matanya. Meskipun merasakan sakit, korban tetap melanjutkan pijatan.

Akhirnya korban memberi tahu saudara perempuannya apa yang terjadi, dan dialah yang menelepon Centre for Domestic Employees untuk meminta bantuan.

Polisi kemudian pergi ke rumah Tan, dan korban dibawa ke rumah sakit dengan luka memar di dahi dan lengannya.

Ketika Tan pertama kali diselidiki, dia membantah melakukan pelanggaran tersebut. Namun dia kini telah mengaku bersalah.

Wakil Jaksa Penuntut Umum, Kathy Chu mengatakan, setelah kejadian itu korban menganggur selama tujuh bulan, dari April 2019 hingga dia menemukan pekerjaan baru pada Desember 2019.

Chu meminta agar Tan diberi setidaknya 12 hingga 15 minggu penjara dan kompensasi setidaknya S $ 3.200 atas rasa sakit korban dan kehilangan penghasilan.

Tan telah meminta keringanan, dengan alasan harus merawat tiga anak dan sedang hamil, serta harus mengurus ibunya yang sakit-sakitan.

"Saya hanya ingin kamu tahu, saya tahu saya salah, dan keluarga saya membutuhkan saya, dan saya juga tidak ingin melahirkan di penjara dan terpisah dari anak-anak saya," katanya.

Namun Hakim menolak permintaanya.

#PRT Indonesia